Kamis, 13 November 2008


TARIAN MAKHLUK, TARIAN BERPUTAR
Di negri manakah terdapat dua Mentari?Meski orang-orang berada di Indonesia, Cina, India, Persia atau Arabia,bukankah mereka sama-sama melihat Mentari?Bila demikian, benarkah terdapat banyak Mentari?Lalu bagaimana mungkin saat malam haridapat meluncur dari mulutmu, "Huh, Mentari telah meninggalkanku!"Aduhai, lalu siapakah yang terbatas itu?Ketika para planet di sana dengan tarian berputarnya,atau seperti manusia bangkai di Baytullah,semua menari berputar-putar hingga langkah kembali semula."O, kami tak lain hanyalah kaum pemyembah Mentari," semua melantunkan, "Kami hanyalah persandingan yang nol."Menyadari hal ini, para planet tetap terus berputar hingga menjadikannya mabuk.Akhirnya, Mentari membakar mereka untuk menyisakan yang sedikit.Api itu sungguh panas, hingga kesatuan dalam selainnya menjadi mati.Selainnya itu adalah nol-nol yang tak berkesudahan.Meski ia terlihat dua, tetap saja semuanya adalah nol.Engkau tak dapat melakukannya dengan perkalian.Ini bukan wilayah itu!Engkau pun tak dapat melakukannya dengan penambahan.Ketika dilakukan dengan cara itu, engkau berhasrat menjadikannya lebih.Kesadaran pengurangan adalah baik untuk itu.Suatu keadaan yang mana engkau menjadi tiadadan bukan apa-apa atau pun sesiapa.Tegalrejo Yogyakarta, 26 April 2003
Di Eropa dan Amerika, Raqs Sama` dikenal juga dengan istilah Whirling Dervishes, yang berarti "para Darwis (Dervish, red Iran) Berputar (thawaf)," yang di kalangan Sufi sendiri lebih dikenal hanya dengan istilah Sama`. Pada hakikatnya, Sama` yang sebagai tarian spiritual merupakan simbolisasi bentuk dzikir yang memadukan antara dzikir secara zahiriah dan batiniah, yang diformulasikan oleh Mawlana Syekh Jalaluddin Rumi qs yang kelahiran Balkh, Afghanistan Utara, sebuah kawasan yang sekarang telah menjadi bagian dari negara Iran. Sama` merupakan tarian spiritual yang tidak saja hanya sebatas artistik, ia juga amat sakral, yang biasa dibawakan oleh para Darwis Mawlawiyah. Umumnya, Sama` juga diiringi dengan harmonisasi tiupan seruling dan irama gendang, sebagai simbolisasi Nama dan Sifat Allah, al-Jamal.Dalam melakukan dzikir, tak ada batasan yang melarang formulasinya, kecuali zikir yang telah ditentukan, Shalat misalnya. Ketika Allah mengatakan ingatlah Daku dalam keadaan apapun itu, baik ketika berbaring, duduk maupun berdiri, maka ketika Anda berdzikir saat berbaring sembari tengkurap, no problem. Ketika Anda dzikir saat duduk sembari jongkok, no problem. Ketika Anda berdzikir pada saat berdiri sembari berjalan atau berolah-raga pun tak masalah. Intinya, dalam keadaan apapun itu, kita berupaya untuk senantiasa mengingat Allah, yang terpenting tujuannya adalah beribadah kepada Allah, mengakhiratkan dunia. Bahkan, ketika kalian, para pasutri, yang berhungan pun dan jika itu dilakukan dengan zikrullah, hal itu akan dinilai ibadah oleh Allah Swt. Sekarang, bayangkanlah, anggap saja Anda tengah berolah-raga. Hanya saja olah-raga itu Anda lakukan demi ibadah, mengingat Allah.Sebagaimana Shalat, yang adalah juga formulasi zikrullah yang memadukan antara dzikir zahiriah dan batiniah, ia merupakan bias Ilahi dari batiniah kembali menuju lahiriah, dan segenap eksistensi manusia terlibat dalam suatu keadaan yang mencerahkan. Tak ada satupun kata dalam bahasa yang ada --termasuk bahasa Arab itu sendiri-- yang mampu menyampaikan luas dan dalamnya makna Shalat. Seluruh kata dan penafsiran dinyatakan, namun itu semua belumlah cukup untuk menyampaikan perpaduan indah yang terjadi antara kepasrahan, kerendahan hati yang sarat dedikasi serta rangkaian mistis gerak tubuh. Bagi tawanan dalam penjara, mungkin akan lebih menginginkan sebuah peralatan kunci, godam ataupun yang sejenis. Namun, seseorang telah memberikan sajadah kepadanya dan ia mulai mengerjakan Salat Fardhu. Pada tiap-tiap bagian Shalat ia bertafakur, merenungkan sajadah tempat ia bersujud hingga akhirnya ia melihatnya sebagai suatu cara kerja dan diagram kunci yang memenjarakannya, dan kini, ia telah berada di luar.

Tidak ada komentar: