Senin, 02 Maret 2009

ओलेह सेबयु: व्व्व.गोसितिएस.com
Tasawuf Bukanlah Sufisme

Tasawuf serta sufisme terlihat merebak akhir-akhir ini di indonesia, namun bila kita amati dengan lebih seksama akan kita dapati kerancuan dalam pemahaman terhadap arti tasawuf dan arti sufisme yang di anggap sama, juga terdapat kerancuan terhadap arti sufistik, sufisme, filsuf, filosofi dlsb.
Oleh karena itu marilah kita cermati apa dan bagaimana sebenarnya tasawuf dan sufisme serta dimana letak perbedaanya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi SAW. berkata bahwa umur umatku tidak jauh dari umurku, sedangkan pada saat wafat Nabi SAW. adalah berusia 63 tahun, sehingga hal tersebut mengisyaratkan bahwa umur umat Muhammad SAW. berkisar di sekitar 63 tahun saja, sehingga bila ada yg berusia hingga 70-90 tahun merupakan hadiah atau tambahan kesempatan untuk menambah amal ataupun untuk bertobat bagi yang masih berasyik-asyik dengan dunia, disamping itu terdapat pula pendapat yang menyatakan pembagian tiga terhadap standar usia 63 tahun tersebut menjadi tiga bagian yang masing-masing terdiri dari 21 tahun, ketiga bagian tersebut diterangkan sebagaimana berikut ini:
21 tahun pertama adalah Syariat.
21 tahun kedua adalah Hakikat.
21 tahun ketiga adalah Marifat.
Jadi idealnya dalam kehidupan umat islam seharusnya 21 tahun pertama adalah saat untuk berlomba-lomba mengumpulkan ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu pembeda salah dan benar atau gelap dan terang, serta di tambah ilmu pengetahuan umum yang berguna untuk menunjang modal kehidupan.

Sedangkan 21 tahun kedua adalah saat untuk pencarian kebenaran atau pembuktian dari semua ilmu yang telah didapatkan tersebut diatas, seyogyanya pencarian kebenaran tidaklah menjadikan terhentinya pencarian atau penambahan ilmu, sebab kita senantiasa harus terus belajar dan menambah ilmu selama kematian belumlah menjeput.

21 tahun ketiga baik lebih maupun kurang adalah saat setelah teruji kebenaran dari ilmu yang didapat tersebut, menjadi saat keemasan kehidupan ruhaniah seseorang yang secara umum dapat dikatakan memasuki usia kebijakan (kurang lebih dimulai pada usia 43-50 tahun), yang secara sisi ruhaniah menjadi masa pengenalan terhadap Allah sebagai pemilik segala ilmu serta segala sesuatu yg terkait kepada ilmu tersebut, yang mana keterkaitan tersebut dapat diartikan sebagai pembuatan, sebagaimana Allah dengan ilmunya telah membuat atau menciptakan alam semesta beserta isinya dan yang termasuk didalamnya adalah manusia, yaitu kita.

Dengan demikian maka menjadi jelaslah bahwa kita hanya dapat mengenal dan merasakan keberadaan Allah dengan pengenalan akan kebenaran ilmu serta segala ciptaan Nya, sedangkan kebenaran ilmu Allah kiranya hanya bisa kita dapatkan dari hikmah kehidupan dengan berbekal atau bermodalkan sabar serta tawadhu.

Setelah mengamati ulasan kehidupan yg panjang dan berbelit tersebut di atas maka sampailah kita pada pengenalan dari arti tasawuf yang merupakan ilmu marifat atau ilmu pengenalan terhadap Allah, sedangkan sufisme adalah isme atau dapat juga dikatakan sebagai ilmu untuk menjalani kehidupan sufistik seorang sufi, yang mana diketahui bahwa akhir dari kesufian adalah awal dari kenabian, yang tentu saja menjadikan kesufian dapat di artikan pencarian kesucian yang tertinggi yang menjadi dasar atau awal kenabian, demikianlah bahwa akhir kesufian hanyalah awal kenabian menjadikan setinggi-tinggi nya tingkat kesufian tidaklah dapat mencapai tingkat kenabian.

Sekarang tentunya telah menjadi lebih teranglah perbedaan antara tasawuf dengan sufisme, walaupun sangatlah jelas bahwa sufisme adalah salah satu ilmu atau cara menjalani tasawuf bagi para sufi, sedangkan tasawuf itu sendiri dapat dipelajari atau di amalkan siapa saja yang ingin mencapai tingkat marifatullah dengan cara mencari bukti-bukti kebenaran dari ilmu serta segala sesuatu ciptaan Allah atau yang dikenal dengan merenung sesaat yang dapat menghasilkan pemahaman akan kebenaran ilmu-ilmu Allah dengan imbalan 1000 rakaat shalat, juga dapat dicapai dengan cara mencari hikmah dari setiap permasalahan dalam kehidupan pribadi maupun orang lain dengan berbekal sabar, tawadhu, prasangka baik pada Allah sesuai dengan janji-janji serta ketetapan Allah pada hambanya.

Sedangkan pada kasus kerancuan yang terjadi akibat fisafat islam yang menjadi bahasa umum para sufi yang sedemikian sulit untuk dimengerti orang awam adalah penyebab para sufi di anggap orang yang tidak normal dengan segala cerita keanehan-keanehan kehidupan mereka yang sebetulnya di ceritakan oleh para penganut sufisme dalam bahasa filsafat yang tentu saja tidak mudah dimengerti atau di pahami kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa mendengar istilah-istilah serta kata-kata kiasan yang menyerupai syair atau puisi, atau untuk mudahnya kita harus berfikir untuk mengartikan sebuah kata kias, syair ataupun puisi, sudah barang tentu akan jauh lebih sulit lagi bila kata kias, syair atau puisi itu memakai bahasa fisafat pula, tentu saja akan menjadi sangat rumit untuk mengerti artinya, apalagi untuk menghayatinya.

Sebagai contoh, ada seorang sufi yang pada saat itu terjadi perbantah-bantahan didalam hatinya sedangkan ia sedang berjalan di gurun pasir, sehingga ia berjalan terus di gurun pasir tersebut selama satu tahun tanpa makan dan minum, juga ada seorang sufi yang sedang berpuasa, lalu saat ia sedang menolong seseorang untuk memperbaiki atap rumah ketika ia berada di ujung tangga, si empunya rumah menyuguhkan makanan dan minuman yg terlihat enak dan segar dikarenakan ia sedang berpuasa, sehingga terjadilah juga perbantah-bantahan didalam hatinya sehingga satu tahun atau dua tahun ia berada di atas tangga tersebut, kedua cerita tersebut diatas seakan-akan menceritakan kehebatan atau terlihat begitu saktinya seorang sufi yang mengakibatkan perbedaan pendapat bagi pembaca atau pendengar cerita tersebut, bagi orang yang tertarik supranatural tentu saja ingin mempelajari ilmu kesufian tersebut agar dapat menjadi hebat atau sakti sebagaimana sang sufi yg ia bayangkan kehebatannya, dilain fihak bagi orang yang tidak percaya atau kurang percaya akan hal supranatural atau klenik menjadikan mereka memandang cerita tersebut sebagai suatu kebohongan yang sangat besar, sehingga menjadikan ia memandang sang sufi dan para sufi sebagai pembohong besar.

Disinilah letak kerancuan pendapat awam dalam mengartikan cerita yang di sajikan sebagai cerita, kata kias, syair atau puisi dengan memakai bahasa fisafat islam yang tentu saja sulit untuk dimengerti begitu saja, walaupun sebenarnya dapat saja secara sederhana dicarikan perumpamaannya dalam kehidupan keseharian kita, misalnya kita mempunyai kenalan, baik itu di kantor maupun di mana saja tempat yang sering kita bertemu dengannya sedangkan orang tersebut selalu membuat kita jengkel karena entah itu kelakuannya ataupun cara berbicaranya yang selalu menjengkelkan kita, yang tentu saja semua itu berjalan dalam waktu yang cukup lama ataupun lama sekali akan menjadi ganjalan di hati kita sehingga baru berakhir bila orang tersebut tidak menjengkelkan lagi atau orang tersebut tidak disana lagi atau kita yang sudah tidak disana lagi, tentu saja kita tidak dapat memprediksi berapa lama ganjalan tersebut akan mengganggu kita bisa satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan mungkin saja sepuluh tahun, ganjalan di hati kita tersebut dapat kita perumpamakan sebagai perbantah-bantahan yang terjadi di hati sang sufi tersebut, tentu saja baik kita maupun sang sufi tersebut, secara kenyataannya tidak berdiam di tempat tersebut atau pun berhadapan dengan orang tersebut selama waktu masih terjadi ganjalan atau selama terjadi perbantah-bantahan tersebut, melainkan baik kita maupun sang sufi tersebut tetap melaksanakan kegiatan kita sehari-hari seperti biasanya, walaupun ada ganjalan di hati kita maupun perbantah-bantahan di hati sang sufi tersebut.

Memandang kasus tersebut di atas maka menjadi jelaslah bagi kita, bahwa sebenarnya tidaklah ada suatu keanehan dalam kehidupan seorang sufi, melainkan sama saja dengan kehidupan kita sehari-hari, yang berbeda hanya masalah cara hidup saja, kehidupan seorang sufi, sama saja dengan seorang guru agama (ustadz), da'i atau ulama secara umum, hanya saja biasanya mereka berusaha untuk selalu menjaga pandang, wudlu juga fikirannya, demi tercapainnya kesucian tertinggi yang dapat dicapai manusia.

Dengan demikian, maka baik ganjalan hati ataupun perbantah-bantahan hati hanyalah suatu bentuk kemacetan , stuck atau terhentinya salah satu proses ruhaniah kita dalam jangka waktu tertentu, yang di perumpamakan seakan-akan waktu terhenti sedangkan diri tetap berjalan atau diri terhenti sedangkan waktu terus berjalan, dan lain sebagainya perumpamaan.

Mungkin contoh kematian yang secara umum ditakuti dapat menjadi contoh yang lebih mudah dimengerti, misalkan pada suatu sore hari, kita sedang memotong rumput di halaman rumah, selagi asyik memotong rumput tiba-tiba kita teringat akan kematian yang sangat menyakitkan sakratul mautnya sehingga kita menjadi takut akan kematian yang pasti datang itu, maka selama kita takut akan kematian tersebut selama itulah pengetahuan ruhanian tentang kematian kita terhenti, seakan-akan bila ingat soal kematian kita ingat saat pertamakali takut itu datang di taman rumah kita tersebut, walaupun keruhanian kita selain tentang kematian terus berjalan, baik itu belajar agama ataupun segala peribadahan kita tetap berjalan seperti biasanya, juga kegiatan kita sehari-hari tetap berjalan normal seperti biasanya, namun selama kita masih takut akan kematian tersebut, selama itu pula pemikiran kita tentang kematian tetap tertahan di taman tersebut, sehingga waktu seakan-akan berhenti untuk masalah kematian tersebut, walaupun kegiatan kita berjalan normal seperti biasanya, pada suatu hari, tiga tahun setelah masalah di taman itu, bertemulah kita dengan seseorang yang memberi tahukan bahwa tiada rasa sakit, walaupun hanya sebiji zarah kecuali akan ditambahkan kemuliaan baginya, sehingga dengan pengetahuan ini kita menyadari bahwa sakratul maut yang super sakit itu dapat ditukarkan menjadi super mulia, yang merupakan kesempatan terakhir atau tambahan yang sangat menguntungkan, yang diberikan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hambanya, berkah ini tentu saja menghapus ketakutan kita kepada sakratul maut, sehingga kematian bukan lagi merupakan hal yang menakutkan, dengan demikian hilanglah sudah kemacetan ruhaniah akan kematian tersebut, setelah tiga tahun membebani kita, kejadian tersebut dapat diperumpamakan semenjak sore tersebut kita terus mencabuti rumput selama tiga tahun tanpa makan dan minum, tanpa makan dan minum ini dapat diartikan selama tiga tahun kita tidak mendapatkan jalan keluar dari masalah ketakutan tersebut.

Tentu saja jika kita menceriterakan kepada banyak orang, bahwa kita mencabuti rumput tanpa makan dan minum selama tiga tahun dikarenakan takut akan kematian, diantara mereka akan ada yang mengatakan kita pembohong besar, sedangkan diantara yang lainnya ada yang akan menganggap kita orang yang sangat sakti, padahal kita hanya orang biasa saja.
ओलेह सेबयु: व्व्व.गोसितिएस.com
Tasawuf Bukanlah Sufisme

Tasawuf serta sufisme terlihat merebak akhir-akhir ini di indonesia, namun bila kita amati dengan lebih seksama akan kita dapati kerancuan dalam pemahaman terhadap arti tasawuf dan arti sufisme yang di anggap sama, juga terdapat kerancuan terhadap arti sufistik, sufisme, filsuf, filosofi dlsb.
Oleh karena itu marilah kita cermati apa dan bagaimana sebenarnya tasawuf dan sufisme serta dimana letak perbedaanya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi SAW. berkata bahwa umur umatku tidak jauh dari umurku, sedangkan pada saat wafat Nabi SAW. adalah berusia 63 tahun, sehingga hal tersebut mengisyaratkan bahwa umur umat Muhammad SAW. berkisar di sekitar 63 tahun saja, sehingga bila ada yg berusia hingga 70-90 tahun merupakan hadiah atau tambahan kesempatan untuk menambah amal ataupun untuk bertobat bagi yang masih berasyik-asyik dengan dunia, disamping itu terdapat pula pendapat yang menyatakan pembagian tiga terhadap standar usia 63 tahun tersebut menjadi tiga bagian yang masing-masing terdiri dari 21 tahun, ketiga bagian tersebut diterangkan sebagaimana berikut ini:
21 tahun pertama adalah Syariat.
21 tahun kedua adalah Hakikat.
21 tahun ketiga adalah Marifat.
Jadi idealnya dalam kehidupan umat islam seharusnya 21 tahun pertama adalah saat untuk berlomba-lomba mengumpulkan ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu pembeda salah dan benar atau gelap dan terang, serta di tambah ilmu pengetahuan umum yang berguna untuk menunjang modal kehidupan.

Sedangkan 21 tahun kedua adalah saat untuk pencarian kebenaran atau pembuktian dari semua ilmu yang telah didapatkan tersebut diatas, seyogyanya pencarian kebenaran tidaklah menjadikan terhentinya pencarian atau penambahan ilmu, sebab kita senantiasa harus terus belajar dan menambah ilmu selama kematian belumlah menjeput.

21 tahun ketiga baik lebih maupun kurang adalah saat setelah teruji kebenaran dari ilmu yang didapat tersebut, menjadi saat keemasan kehidupan ruhaniah seseorang yang secara umum dapat dikatakan memasuki usia kebijakan (kurang lebih dimulai pada usia 43-50 tahun), yang secara sisi ruhaniah menjadi masa pengenalan terhadap Allah sebagai pemilik segala ilmu serta segala sesuatu yg terkait kepada ilmu tersebut, yang mana keterkaitan tersebut dapat diartikan sebagai pembuatan, sebagaimana Allah dengan ilmunya telah membuat atau menciptakan alam semesta beserta isinya dan yang termasuk didalamnya adalah manusia, yaitu kita.

Dengan demikian maka menjadi jelaslah bahwa kita hanya dapat mengenal dan merasakan keberadaan Allah dengan pengenalan akan kebenaran ilmu serta segala ciptaan Nya, sedangkan kebenaran ilmu Allah kiranya hanya bisa kita dapatkan dari hikmah kehidupan dengan berbekal atau bermodalkan sabar serta tawadhu.

Setelah mengamati ulasan kehidupan yg panjang dan berbelit tersebut di atas maka sampailah kita pada pengenalan dari arti tasawuf yang merupakan ilmu marifat atau ilmu pengenalan terhadap Allah, sedangkan sufisme adalah isme atau dapat juga dikatakan sebagai ilmu untuk menjalani kehidupan sufistik seorang sufi, yang mana diketahui bahwa akhir dari kesufian adalah awal dari kenabian, yang tentu saja menjadikan kesufian dapat di artikan pencarian kesucian yang tertinggi yang menjadi dasar atau awal kenabian, demikianlah bahwa akhir kesufian hanyalah awal kenabian menjadikan setinggi-tinggi nya tingkat kesufian tidaklah dapat mencapai tingkat kenabian.

Sekarang tentunya telah menjadi lebih teranglah perbedaan antara tasawuf dengan sufisme, walaupun sangatlah jelas bahwa sufisme adalah salah satu ilmu atau cara menjalani tasawuf bagi para sufi, sedangkan tasawuf itu sendiri dapat dipelajari atau di amalkan siapa saja yang ingin mencapai tingkat marifatullah dengan cara mencari bukti-bukti kebenaran dari ilmu serta segala sesuatu ciptaan Allah atau yang dikenal dengan merenung sesaat yang dapat menghasilkan pemahaman akan kebenaran ilmu-ilmu Allah dengan imbalan 1000 rakaat shalat, juga dapat dicapai dengan cara mencari hikmah dari setiap permasalahan dalam kehidupan pribadi maupun orang lain dengan berbekal sabar, tawadhu, prasangka baik pada Allah sesuai dengan janji-janji serta ketetapan Allah pada hambanya.

Sedangkan pada kasus kerancuan yang terjadi akibat fisafat islam yang menjadi bahasa umum para sufi yang sedemikian sulit untuk dimengerti orang awam adalah penyebab para sufi di anggap orang yang tidak normal dengan segala cerita keanehan-keanehan kehidupan mereka yang sebetulnya di ceritakan oleh para penganut sufisme dalam bahasa filsafat yang tentu saja tidak mudah dimengerti atau di pahami kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa mendengar istilah-istilah serta kata-kata kiasan yang menyerupai syair atau puisi, atau untuk mudahnya kita harus berfikir untuk mengartikan sebuah kata kias, syair ataupun puisi, sudah barang tentu akan jauh lebih sulit lagi bila kata kias, syair atau puisi itu memakai bahasa fisafat pula, tentu saja akan menjadi sangat rumit untuk mengerti artinya, apalagi untuk menghayatinya.

Sebagai contoh, ada seorang sufi yang pada saat itu terjadi perbantah-bantahan didalam hatinya sedangkan ia sedang berjalan di gurun pasir, sehingga ia berjalan terus di gurun pasir tersebut selama satu tahun tanpa makan dan minum, juga ada seorang sufi yang sedang berpuasa, lalu saat ia sedang menolong seseorang untuk memperbaiki atap rumah ketika ia berada di ujung tangga, si empunya rumah menyuguhkan makanan dan minuman yg terlihat enak dan segar dikarenakan ia sedang berpuasa, sehingga terjadilah juga perbantah-bantahan didalam hatinya sehingga satu tahun atau dua tahun ia berada di atas tangga tersebut, kedua cerita tersebut diatas seakan-akan menceritakan kehebatan atau terlihat begitu saktinya seorang sufi yang mengakibatkan perbedaan pendapat bagi pembaca atau pendengar cerita tersebut, bagi orang yang tertarik supranatural tentu saja ingin mempelajari ilmu kesufian tersebut agar dapat menjadi hebat atau sakti sebagaimana sang sufi yg ia bayangkan kehebatannya, dilain fihak bagi orang yang tidak percaya atau kurang percaya akan hal supranatural atau klenik menjadikan mereka memandang cerita tersebut sebagai suatu kebohongan yang sangat besar, sehingga menjadikan ia memandang sang sufi dan para sufi sebagai pembohong besar.

Disinilah letak kerancuan pendapat awam dalam mengartikan cerita yang di sajikan sebagai cerita, kata kias, syair atau puisi dengan memakai bahasa fisafat islam yang tentu saja sulit untuk dimengerti begitu saja, walaupun sebenarnya dapat saja secara sederhana dicarikan perumpamaannya dalam kehidupan keseharian kita, misalnya kita mempunyai kenalan, baik itu di kantor maupun di mana saja tempat yang sering kita bertemu dengannya sedangkan orang tersebut selalu membuat kita jengkel karena entah itu kelakuannya ataupun cara berbicaranya yang selalu menjengkelkan kita, yang tentu saja semua itu berjalan dalam waktu yang cukup lama ataupun lama sekali akan menjadi ganjalan di hati kita sehingga baru berakhir bila orang tersebut tidak menjengkelkan lagi atau orang tersebut tidak disana lagi atau kita yang sudah tidak disana lagi, tentu saja kita tidak dapat memprediksi berapa lama ganjalan tersebut akan mengganggu kita bisa satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan mungkin saja sepuluh tahun, ganjalan di hati kita tersebut dapat kita perumpamakan sebagai perbantah-bantahan yang terjadi di hati sang sufi tersebut, tentu saja baik kita maupun sang sufi tersebut, secara kenyataannya tidak berdiam di tempat tersebut atau pun berhadapan dengan orang tersebut selama waktu masih terjadi ganjalan atau selama terjadi perbantah-bantahan tersebut, melainkan baik kita maupun sang sufi tersebut tetap melaksanakan kegiatan kita sehari-hari seperti biasanya, walaupun ada ganjalan di hati kita maupun perbantah-bantahan di hati sang sufi tersebut.

Memandang kasus tersebut di atas maka menjadi jelaslah bagi kita, bahwa sebenarnya tidaklah ada suatu keanehan dalam kehidupan seorang sufi, melainkan sama saja dengan kehidupan kita sehari-hari, yang berbeda hanya masalah cara hidup saja, kehidupan seorang sufi, sama saja dengan seorang guru agama (ustadz), da'i atau ulama secara umum, hanya saja biasanya mereka berusaha untuk selalu menjaga pandang, wudlu juga fikirannya, demi tercapainnya kesucian tertinggi yang dapat dicapai manusia.

Dengan demikian, maka baik ganjalan hati ataupun perbantah-bantahan hati hanyalah suatu bentuk kemacetan , stuck atau terhentinya salah satu proses ruhaniah kita dalam jangka waktu tertentu, yang di perumpamakan seakan-akan waktu terhenti sedangkan diri tetap berjalan atau diri terhenti sedangkan waktu terus berjalan, dan lain sebagainya perumpamaan.

Mungkin contoh kematian yang secara umum ditakuti dapat menjadi contoh yang lebih mudah dimengerti, misalkan pada suatu sore hari, kita sedang memotong rumput di halaman rumah, selagi asyik memotong rumput tiba-tiba kita teringat akan kematian yang sangat menyakitkan sakratul mautnya sehingga kita menjadi takut akan kematian yang pasti datang itu, maka selama kita takut akan kematian tersebut selama itulah pengetahuan ruhanian tentang kematian kita terhenti, seakan-akan bila ingat soal kematian kita ingat saat pertamakali takut itu datang di taman rumah kita tersebut, walaupun keruhanian kita selain tentang kematian terus berjalan, baik itu belajar agama ataupun segala peribadahan kita tetap berjalan seperti biasanya, juga kegiatan kita sehari-hari tetap berjalan normal seperti biasanya, namun selama kita masih takut akan kematian tersebut, selama itu pula pemikiran kita tentang kematian tetap tertahan di taman tersebut, sehingga waktu seakan-akan berhenti untuk masalah kematian tersebut, walaupun kegiatan kita berjalan normal seperti biasanya, pada suatu hari, tiga tahun setelah masalah di taman itu, bertemulah kita dengan seseorang yang memberi tahukan bahwa tiada rasa sakit, walaupun hanya sebiji zarah kecuali akan ditambahkan kemuliaan baginya, sehingga dengan pengetahuan ini kita menyadari bahwa sakratul maut yang super sakit itu dapat ditukarkan menjadi super mulia, yang merupakan kesempatan terakhir atau tambahan yang sangat menguntungkan, yang diberikan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hambanya, berkah ini tentu saja menghapus ketakutan kita kepada sakratul maut, sehingga kematian bukan lagi merupakan hal yang menakutkan, dengan demikian hilanglah sudah kemacetan ruhaniah akan kematian tersebut, setelah tiga tahun membebani kita, kejadian tersebut dapat diperumpamakan semenjak sore tersebut kita terus mencabuti rumput selama tiga tahun tanpa makan dan minum, tanpa makan dan minum ini dapat diartikan selama tiga tahun kita tidak mendapatkan jalan keluar dari masalah ketakutan tersebut.

Tentu saja jika kita menceriterakan kepada banyak orang, bahwa kita mencabuti rumput tanpa makan dan minum selama tiga tahun dikarenakan takut akan kematian, diantara mereka akan ada yang mengatakan kita pembohong besar, sedangkan diantara yang lainnya ada yang akan menganggap kita orang yang sangat sakti, padahal kita hanya orang biasa saja.

Rabu, 11 Februari 2009

Berlapang Dada Menghadapi Kritikan
Ditulis oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Persepsi kita terhadap kritik akan lebih baik bila kita menanamkan di dalam hati bahwa kritik itu penting. Sahabat, apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar orang berkata, "Saya ingin mengkritik Anda!". Biasanya, jika seseorang mendapat perlakukan seperti itu, ia akan bereaksi negatif. Seakan-akan kehormatan dan harga dirinya sedang terancam. Ia menganggap kritik sebagai penghinaan yang akan menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baiknya.
Maka, wajar jika reaksi yang muncul -- entah itu berupa pikiran, perasaan, maupun sikap tubuh -- adalah pembelaan diri. Sulit baginya untuk menerima semua kritikan, apalagi menikmatinya. Akan tetapi, responsnya akan berbeda jika kita mendengar perkataan, "Saya akan memberi kamu kripik". Spontan, kita akan senang menerimanya. Wajah menjadi cerah. Riang rasanya perasaan karena membayangkan akan diberi kripik yang lezat.
Di sinilah perbedaan kata 'kritik' dan 'kripik'. Tetapi, yang terpenting bukan itu. Hal terpenting adalah mengapa kita sampai memunculkan sikap berbeda ketika mendengar dua kata itu? Untuk yang pertama, kita cenderung sungkan menerimanya. Sementara untuk yang kedua, kita malah sering mencarinya. Sebenarnya, masalah kritik dan kripik bisa sama kalau persepsi kita tentang kritik itu kita benahi; bila kata-kata kritik menjadi bagian keseharian yang kita nikmati. Lebih dari itu, kita juga butuh ilmunya sehingga kritik ini menjadi sesuatu yang berarti dan layak kita akrabi.
Dalam menerima kritik, kita memerlukan beberapa trik, sehingga kita bisa menerima kritik tersebut sebagai sarana membangun kemuliaan. Bagaimana caranya? Pertama, rindukanlah kritik dan nasihat tersebut. Selayaknya, kita bisa memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, dan rindu dinasihati. Seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Persepsi kita terhadap kritik akan lebih baik bila kita menanamkan di dalam hati bahwa kritik itu penting. Kritik adalah kunci kesuksesan dan kemajuan, kritik akan membuka prestasi, derajat, dan kedudukan yang lebih baik.
Kedua, cari dan bertanyalah. Belajarlah bertanya kepada orang lain dan nikmati saran-saran yang mereka lontarkan. Milikilah teman yang mau dengan jujur untuk saling mengoreksi. Tanyalah kekurangan diri pada orang-orang yang dekat dengan kita. Percayalah, semua itu tidak akan mengurangi kemuliaan. Ketiga, nikmati kritik. Persiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa koreksi itu tidak selalu harus sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya isinya benar, namun caranya salah. Tidak ada yang rugi dengan dikoreksi. Jadi, kalau ada yang mengkritik, usahakan untuk tidak berkomentar. Jangan memotong pembicaraan. Apalagi membantahnya. Belajarlah untuk diam dan menjadi pendengar yang baik.
Keempat, syukurilah. Jangan melempar komentar apapun kecuali ucapan terimakasih yang tulus kepada si pemberi kritik. Tampakkanlah raut muka yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Sertakan namanya dalam doa-doa kita, terutama bila kita ingat akan kebaikan-kebaikan yang pernah ia berikan. Kelima, evaluasi diri. Jujurlah kepada diri sendiri ketika menerima kritik. Jangan sibuk menyalahkan pengkritik, atau mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain.
Keenam, perbaiki diri. Buatlah program perbaikan dengan sungguh-sungguh. Jadikan program tersebut sebagai ungkapan rasa syukur terhadap kritik yang datang. Mintalah kepada Allah, sebab perubahan hanya terjadi dengan izin dan kekuasaan Dia. Ketujuh, balas budi. Jangan lupa untuk mengirimkan tanda terima kasih. Bisa berupa barang berharga, makanan, sepucuk surat, atau-minimal-informasi kepada yang mengkritik bahwa kita berterima kasih atas kebaikannya. Selamat menikmati kritik. Wallahu a'lam

Semangat Saling Menasehati
Ditulis oleh KH. Abdullah Gymnastiar
"Demi masa. Sesungguhya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr : 1-3) Dalam ayat di atas, tersirat bahwa seseorang akan beruntung kalau ia menggunakan waktunya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Memang alangkah indahnya bila kehidupan kita sudah disemarakkan dengan semangat saling menasihati. Betapa tidak? Setiap orang butuh keselamatan. Selamat dari kerusakan, kebodohan, kecelakaan, kekurangan, kelalaian, dan kesalahan. Ia tidak mungkin dapat melihat bahaya-bahaya tadi hanya dengan mata dan telinganya sendiri. Ada ribuan mata dan telinga saudaranya yang dapat yang dapat membantu melihat bahaya-bahaya yang mengancam. Pemberitahuan itu adalah nasihat, saran, atau kritik.
Makna dari nasihat adalah ‘menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran’, yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan perbuatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan mengajaknya untuk tidak melakukan perbuatan yang malah dapat menjauhkan diri dariNya. Dan merupakan tugas setiap muslim baik perempuan maupun laki-laki untuk saling nasihat menasihati seperti dalam firman-Nya : “Dan hendaklah ada dari antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran 4: 104).Gawatnya, ketika memberikan nasihat kita semangat, ketika memberikan saran semangat, ketika memberikan koreksi semangat, akan tetapi ketika giliran kita dikoreksi justru kita tidak sanggup menerimanya. Oleh karena itu kepada siapapun yang akan memberikan nasihat, syarat utamanya adalah kita harus menjadi orang yang terlatih untuk menerima nasihat, terlatih untuk menerima kritik, dan terlatih untuk menerima koreksi.Sebelum kita sanggup untuk melatih diri kita, sulit sekali kita dapat memberi nasihat yang memiliki kekuatan yang menggugah dan memberi perubahan. Nah, secara sederhana di sini ada beberapa kiat yang dapat kita terapkan dalam menerima nasihat atau kritik agar dapat menjadi sarana pembangunan kemuliaan. Pertama, rindu kritik dan nasihat. Kita harus memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, rindu dinasihati, seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Walaupun wajah yang ada dalam cermin adalah wajah yang itu-itu juga, namun kita tidak pernah keberatan untuk merapikan rambut, manakala cermin memperlihatkan gambar rambut yang acak-acakan. Kita pun tidak pernah marah kepada cermin bila di cermin kita melihat di mata kita ada kotoran. Reaksi kita adalah membuang kotoran itu dan bukan memecahkan cermin. Ketahuilah, orang-orang di sekitar kita adalah cermin yang memberitahukan apa kekurangan kita. Sehingga sepatutnyalah kita bergembira ketika ada yang memperlihatkan kekurangan kita, karena dengan demikian kita menjadi tahu dan dapat segera memperbaiki diri. Kedua, cari dan tanya. Belajarlah bertanya kepada orang tentang kekurangan-kekurangan kita dan belajar pula untuk mendengar dan menerima kritik. Milikilah teman yang mau jujur mengoreksi, tanya pula kepada istri, suami, anak-anak, karyawan dan lain-lain.Ketiga, nikmati kritik. Persiapkan diri menghadapi kenyataan bahwa kritik tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kritik selain mengandung isi juga melibatkan cara. Kadang isinya benar tetapi caranya kurang bijak. Ada yang isinya salah tetapi caranya benar. Ada yang isi maupun caranya salah. Adapula yang isi dan caranya juga benar. Namun tidak ada kerugian sedikitpun bagi kita selama cara kita menyikapinya benar. Dengarkan dengan baik dan jangan memotong apalagi membantah. Keempat, syukuri. Adanya orang yang peduli dengan memberikan kritik kepada kita merupakan karunia yang patut disyukuri. Jangan lupa mengucapkan terima kasih. Bila kita berubah menjadi lebih baik melalui nasihat seseorang, jangan lupakan ia dalam doa kita dan sebutlah namanya ketika kita menyampaikan nasihat yang sama kepada orang lain. Nikmati kritik itu sebagai karunia Allah, karena seseorang tidak akan mati karena dikritik. Kelima, perbaiki diri. Lihatlah apakah benar ada kekurangan pada diri kita. Jawaban terbaik ketika dikoreksi bukanlah membela diri tetapi memperbaiki diri. Sibukkan diri dengan mendengar kritik dan iringi dengan memperbaiki diri. Memang orang yang lemah, orang yang sombong, orang-orang yang penuh kebencian, tidak pernah tahan terhadap kritik. Jika ada yang mengkoreksi maka dirinya sibuk untuk membela diri, sibuk untuk berpikir dan sibuk untuk membalas, ketahuilah bahwa orang yang demikian itu tidak akan bisa maju. Lalu bagaimana jika lalu kita dihina terus? Jangan risau! Karena semua orang yang sukses dan mulia itu pasti ada yang menghina. Tidak akan pernah didengki kecuali orang yang berprestasi.Keenam, balas budi. Sebagai orang yang tahu terima kasih dan menghargai sebuah pemberian, sudah selayaknya kita membalas pemberian kritik itu sebagai pemberian hadiah pula. Kalau tidak mampu memberikan sesuatu yang berharga, paling tidak sebuah ucapan terima kasih yang tulus dan doa yang ikhlas. Saudaraku, nasihat yang baik yang boleh kita sampaikan adalah nasihat yang benar, mengandung muatan positif dan tentunya penuh makna dan manfaat bagi semua orang yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi kemunkaran yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Dan bukanlah sebaliknya, menganjurkan kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Sebagai catatan, apapun yang kita sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya jika cara menyampaikannya pun benar.Dengan nasihat kita harus membantu yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang lalai agar menjadi semangat, yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang berlumur dosa menjadi bertobat, intinya kalau dilandasi niat yang baik akan melahirkan kebaikan juga.Ingatlah! Yang paling penting dari suatu nasihat, kritik, dan koreksi itu adalah niat yang mendasarinya. Kalau didasari niat ingin menjatuhkan, koreksi itu hanya akan menjadi pisau atau panah beracun.Harusnya nasihat kita itu dilandasi dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan.Kalau niat sudah baik caranya juga harus benar. Nabi Muhammad Saw itu adalah seorang penasihat, tetapi nasihatnya itu betul-betul bil hikmah, semuanya penuh dengan kearifan dan kematangan. Beliau memperbaiki peradaban yang begitu keras dan berat justru dengan kelembutan. Pendek kata, kita butuh nasihat yang tulus dari hati yang penuh kasih sayang dengan kata-kata yang terpilih yang tidak melukai diiringi dengan sikap yang tidak menggurui, tidak mempermalukan, tidak memojokan, sehingga orang berubah bukan karena ditekan oleh kata-kata kita melainkan tersentuh oleh kata-kata kita.Sahabat-sahabat, marilah kita terus berlatih untuk menyayangi orang lain karena itulah sumber yang utama agar nasihat kita menjadi bijak dan penuh kemuliaan. Dan sebaik-baik nasihat adalah dengan suri tauladan, hancurnya orang-orang yang sibuk memberi nasihat adalah ketika apa yang dia katakan tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Wallahu a’lam bishawab.

Semangat Saling Menasehati
Ditulis oleh KH. Abdullah Gymnastiar
"Demi masa. Sesungguhya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr : 1-3) Dalam ayat di atas, tersirat bahwa seseorang akan beruntung kalau ia menggunakan waktunya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Memang alangkah indahnya bila kehidupan kita sudah disemarakkan dengan semangat saling menasihati. Betapa tidak? Setiap orang butuh keselamatan. Selamat dari kerusakan, kebodohan, kecelakaan, kekurangan, kelalaian, dan kesalahan. Ia tidak mungkin dapat melihat bahaya-bahaya tadi hanya dengan mata dan telinganya sendiri. Ada ribuan mata dan telinga saudaranya yang dapat yang dapat membantu melihat bahaya-bahaya yang mengancam. Pemberitahuan itu adalah nasihat, saran, atau kritik.
Makna dari nasihat adalah ‘menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran’, yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan perbuatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan mengajaknya untuk tidak melakukan perbuatan yang malah dapat menjauhkan diri dariNya. Dan merupakan tugas setiap muslim baik perempuan maupun laki-laki untuk saling nasihat menasihati seperti dalam firman-Nya : “Dan hendaklah ada dari antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran 4: 104).Gawatnya, ketika memberikan nasihat kita semangat, ketika memberikan saran semangat, ketika memberikan koreksi semangat, akan tetapi ketika giliran kita dikoreksi justru kita tidak sanggup menerimanya. Oleh karena itu kepada siapapun yang akan memberikan nasihat, syarat utamanya adalah kita harus menjadi orang yang terlatih untuk menerima nasihat, terlatih untuk menerima kritik, dan terlatih untuk menerima koreksi.Sebelum kita sanggup untuk melatih diri kita, sulit sekali kita dapat memberi nasihat yang memiliki kekuatan yang menggugah dan memberi perubahan. Nah, secara sederhana di sini ada beberapa kiat yang dapat kita terapkan dalam menerima nasihat atau kritik agar dapat menjadi sarana pembangunan kemuliaan. Pertama, rindu kritik dan nasihat. Kita harus memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, rindu dinasihati, seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Walaupun wajah yang ada dalam cermin adalah wajah yang itu-itu juga, namun kita tidak pernah keberatan untuk merapikan rambut, manakala cermin memperlihatkan gambar rambut yang acak-acakan. Kita pun tidak pernah marah kepada cermin bila di cermin kita melihat di mata kita ada kotoran. Reaksi kita adalah membuang kotoran itu dan bukan memecahkan cermin. Ketahuilah, orang-orang di sekitar kita adalah cermin yang memberitahukan apa kekurangan kita. Sehingga sepatutnyalah kita bergembira ketika ada yang memperlihatkan kekurangan kita, karena dengan demikian kita menjadi tahu dan dapat segera memperbaiki diri. Kedua, cari dan tanya. Belajarlah bertanya kepada orang tentang kekurangan-kekurangan kita dan belajar pula untuk mendengar dan menerima kritik. Milikilah teman yang mau jujur mengoreksi, tanya pula kepada istri, suami, anak-anak, karyawan dan lain-lain.Ketiga, nikmati kritik. Persiapkan diri menghadapi kenyataan bahwa kritik tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kritik selain mengandung isi juga melibatkan cara. Kadang isinya benar tetapi caranya kurang bijak. Ada yang isinya salah tetapi caranya benar. Ada yang isi maupun caranya salah. Adapula yang isi dan caranya juga benar. Namun tidak ada kerugian sedikitpun bagi kita selama cara kita menyikapinya benar. Dengarkan dengan baik dan jangan memotong apalagi membantah. Keempat, syukuri. Adanya orang yang peduli dengan memberikan kritik kepada kita merupakan karunia yang patut disyukuri. Jangan lupa mengucapkan terima kasih. Bila kita berubah menjadi lebih baik melalui nasihat seseorang, jangan lupakan ia dalam doa kita dan sebutlah namanya ketika kita menyampaikan nasihat yang sama kepada orang lain. Nikmati kritik itu sebagai karunia Allah, karena seseorang tidak akan mati karena dikritik. Kelima, perbaiki diri. Lihatlah apakah benar ada kekurangan pada diri kita. Jawaban terbaik ketika dikoreksi bukanlah membela diri tetapi memperbaiki diri. Sibukkan diri dengan mendengar kritik dan iringi dengan memperbaiki diri. Memang orang yang lemah, orang yang sombong, orang-orang yang penuh kebencian, tidak pernah tahan terhadap kritik. Jika ada yang mengkoreksi maka dirinya sibuk untuk membela diri, sibuk untuk berpikir dan sibuk untuk membalas, ketahuilah bahwa orang yang demikian itu tidak akan bisa maju. Lalu bagaimana jika lalu kita dihina terus? Jangan risau! Karena semua orang yang sukses dan mulia itu pasti ada yang menghina. Tidak akan pernah didengki kecuali orang yang berprestasi.Keenam, balas budi. Sebagai orang yang tahu terima kasih dan menghargai sebuah pemberian, sudah selayaknya kita membalas pemberian kritik itu sebagai pemberian hadiah pula. Kalau tidak mampu memberikan sesuatu yang berharga, paling tidak sebuah ucapan terima kasih yang tulus dan doa yang ikhlas. Saudaraku, nasihat yang baik yang boleh kita sampaikan adalah nasihat yang benar, mengandung muatan positif dan tentunya penuh makna dan manfaat bagi semua orang yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi kemunkaran yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Dan bukanlah sebaliknya, menganjurkan kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Sebagai catatan, apapun yang kita sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya jika cara menyampaikannya pun benar.Dengan nasihat kita harus membantu yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang lalai agar menjadi semangat, yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang berlumur dosa menjadi bertobat, intinya kalau dilandasi niat yang baik akan melahirkan kebaikan juga.Ingatlah! Yang paling penting dari suatu nasihat, kritik, dan koreksi itu adalah niat yang mendasarinya. Kalau didasari niat ingin menjatuhkan, koreksi itu hanya akan menjadi pisau atau panah beracun.Harusnya nasihat kita itu dilandasi dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan.Kalau niat sudah baik caranya juga harus benar. Nabi Muhammad Saw itu adalah seorang penasihat, tetapi nasihatnya itu betul-betul bil hikmah, semuanya penuh dengan kearifan dan kematangan. Beliau memperbaiki peradaban yang begitu keras dan berat justru dengan kelembutan. Pendek kata, kita butuh nasihat yang tulus dari hati yang penuh kasih sayang dengan kata-kata yang terpilih yang tidak melukai diiringi dengan sikap yang tidak menggurui, tidak mempermalukan, tidak memojokan, sehingga orang berubah bukan karena ditekan oleh kata-kata kita melainkan tersentuh oleh kata-kata kita.Sahabat-sahabat, marilah kita terus berlatih untuk menyayangi orang lain karena itulah sumber yang utama agar nasihat kita menjadi bijak dan penuh kemuliaan. Dan sebaik-baik nasihat adalah dengan suri tauladan, hancurnya orang-orang yang sibuk memberi nasihat adalah ketika apa yang dia katakan tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Wallahu a’lam bishawab.

Menjadi Penguasa Diri
Ditulis oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Adalah sebuah kerugian bagi orang yang diberikan jabatan atau kekuasaan tanpa bisa menguasai diri. Kedudukan dan jabatan yang disandang, bukannya menambah kehormatan dirinya, malah menjadi penyebab kehinaan. Begitu pun dengan kekuasaan yang dimiliki, akan berbuah bencana bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, sebuah keniscayaan bagi kita agar dapat menjadi penguasa atas diri. Menjadi penguasa yang bisa mengendalikan diri dari segala perilaku yang tidak sesuai dengan kehendak sang penguasa alam raya ini, yaitu Allah SWT.

Jabatan dan kekuasaan seseorang bukanlah ukuran bahwa orang itu terhormat. Kedudukan tidak identik dengan kemuliaan. Allah memuliakan dan menghinakan siapapun yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan, kedudukan dan jabatan tidak ada artinya jika disalahgunakan. Pejabat yang menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, pada akhirnya akan menuai kehinaan. Bahkan kehinaan tersebut bisa menjadi aib bagi keluarga atau masyarakat di sekitarnya.

Contoh lain adalah perlakuan tentara sebuah negara penjajah terhadap tawanan perang. Mereka memperlakukan tawanan perang tersebut dengan keji, layaknya binatang. Itu artinya sama dengan menghinakan makhluk Allah. Perlakuan beberapa tentara tersebut, telah memicu demonstrasi besar-besaran di berbagai negara. Tidak jarang dalam demonstrasinya, para demonstran mengecam dan menghina negara penjajah tersebut dengan keras. Ulah sebagian kecil tentara yang tidak dapat mengendalikan dirinya telah menyebabkan negaranya ikut terhina.

Hikmah terpenting yang bisa kita ambil dari kejadian ini, adalah pentingnya pengendalian diri dalam berbagai situasi dan kondisi. Sebab, sangat mudah bagi Allah memuliakan dan menghinakan hamba-Nya. Sebagaimana difirmankan-Nya, “Katakanlah, wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26)

Sesungguhnya kekuasaan ada dalam genggaman Allah SWT. Siapapun yang ingin sukses menjadi penguasa maka haruslah terlebih dahulu dapat menguasai dirinya sendiri. Jika tidak bisa menguasai dirinya, maka kekuasaan, jabatan dan kedudukannya itu akan jatuh karena terlalu memperturutkan hawa nafsu dan syahwatnya.
Saudaraku, sebagai seorang muslim, kita haruslah bisa mengendalikan penglihatan, pendengaran dan pembicaraan. Juga tidak kalah pentingnya adalah mengendalikan hati. Karena hatilah yang mengendalikan mata, telinga dan mulut kita. Dengan mengendalikan hati, kita bisa menilai sesuatu dengan jernih, bisa mengendalikan organ tubuh sesuai dengan syariat-Nya. Dengan hati yang terkendali, kita bisa mengendalikan gejolak asmara (cinta) yang membuat kita buta terhadap kebenaran. Sehingga bisa menghindari jebakan maut syaithan. Karenanya, jadilah penguasa atas diri sendiri. Menjadi penguasa diri adalah cermin mukmin sejati. Wallahu a’lam bishawab.

window.google_render_ad();

Minggu, 01 Februari 2009

अवलिया Mastur


Awliya Mastur/tersembunyi
Kekalahan yang terjadi di sepanjang hidup para waliyulloh yang mastur (tersembunyi), mereka menjalankan tugas yang diberikan Alloh SWT penguasa surga dan neraka, dalam pandangan manusia mereka mengalami kekalahan dari sejak menjadi waliyulloh sampai meninggal. Ujian pertama adalah seperti proses menjadi kelapa beberapa buah kelapa bergelantungan dipohon kelapa, ketika menjadi buah, beberapa diantaranya berguguran sebelum matang, beberapa yang bertahan menjadi kelapa muda, beberapa kelapa muda itu ada yang kemudian dipetik untuk diambil airnya. Kelapa yang tersisa kemudian menjadi tua, kemudian dipetik dan dijatuhkan kebawah, kemudian dihancurkan/diparut untuk diambil airnya, beberapa kali proses pada akhirnya menjadi minyak goreng bagi kelapa sawit. Keimanan mereka diuji dengan perlakuan manusia yang tidak diterima oleh setiap orang, penolakan atas ibadah mereka karena dianggap tidak lazim atau menyiksa/menzholimi diri sendiri, caci maki atas pemikiran mereka yang dianggap sudah melewati batas akal manusia, prasangka atas ibadah mereka yang dianggap bid’ah, khurafat, takhayul, fitnah atas ibadah mereka yang dianggap dapat membawa manusia lain ke dalam jurang kehancuran, penghinaan atas derajat ekonomi/sosial karena tidak ada prestasi atas hasil ibadah mereka. Ketika mereka sanggup menjalani semua ujian pertama kemudian ujian yang kedua yaitu mampu menjaga perutnya dari makanan yang syubhat, menahan marah atas sesuatu yang berkenaan dengan eksistensi mereka, mengalah kepada manusia walaupun posisi mereka pada kebenaranNya, merendahkan diri kepada manusia walaupun dihadapan Alloh mereka yang lebih tinggi, meninggalkan perkara yang berakibat pada perdebatan atau bahkan benturan walaupun posisi mereka pada kebenaranNya.Ujian ketiga atau terakhir adalah mereka menolak disembah walaupun mereka adalah pewaris para Rosul yang menjadi wasilah bagi nasib manusia dan makhluk lainnya.Kerahasiaan tugas mereka menjadi sesuatu yang berat bagi sebuah pertunjukan kemampuan biasanya yang ditunjukkan oleh waliyulloh yang masyhur. Mereka memiliki kemampuan spiritual yang luarbiasa/adikodrati, yang biasanya ada dalam dongeng, film kolosal, film kartun, film horor yang mereka gunakan untuk menyelamatkan manusia dari malapetaka, musibah, pemhancuran masal ketika Alloh SWT memerintahkannya.Mereka tersembunyi, terpinggirkan, terkucilkan, terhinakan dalam kekerabatan manusia. Mereka tidak membutuhkan ucapan terimakasih, puja-puji, senandung penghambaan dan kerinduan. Mereka hanya mengharapkan sesuatu dari Alloh SWT yang BELUM SAYA KETAHUI bahkan keberadaan mereka, identitas mereka dan keluarga mereka. Saya mengajak para pembaca apabila mengetahui keberadaan mereka untuk membantu mereka tanpa harus menjelaskan bantuan tersebut dan jatidiri mereka kepada manusia, mencermati nilai-nilai kebaikan yang ada pada diri mereka mungkin dapat membantu kita memecahkan masalah yang kita hadapi. Mereka ada disekeliling kita, mungkin ada yang menjadi tetangga kita, sebagian dari mereka melakukan perjalanannya atau menjalankan tugasnya pada malam hari, karena ketika pada siang hari mereka melakukan kegiatan seperti lazimnya manusia lain, berpakaian seperti manusia lainnya, berinteraksi sosial. Mereka seperti pelita yang besar yang menerangi kegelapan bumi sehingga jalan menjadi terlihat, mereka penyelamat ketika bala turun dari langit, mereka menjadi penyeimbang bagi kuasa gelap.