Rabu, 26 November 2008

Kata guru ; Untuk pemakamanku,
Ambilah genderang, rebana, dan gendang
Wahai teman-temanku,
Bergembira, bersuka ria, bertepuklah! (V 1112)
Pemakaman sang pandai emas pun bertabuh menjadi tarian berputar (sama), untuk memenuhi keinginannya sendiri, seperti dituturkan putranya Sultan Walad
Jiwa jamaah ini maju terus
Selangkah demi selangkah menuju jamaah,
Matahari di keningnya, dan ditangannya
Cawan demi cawan......(D 1583)
Nama Husamuddin disebutkan, dan dalam sebuah syair liris lainnya namanya muncul secara jelas dan kadang-kadang tersembunyi, seperti dalam lagu tarian suka cita berikut ini yang berakhir dengan permainan kata-kata:
Jika kau adalah sebuah nama-kini nama itu
Bercampur dengan yang dinamai
Tidak! Nama itu bagaikan sarung, dan yang dinamai
Adalah pedangnya (Husam).
Pada akhirnya Maulana menggunakan bahasa Arab:
Wahai Husamuddin, tuliskan penjelasan
Tentang Sultan Cinta (yaitu Syamsuddin). (D 738)
Karenanya, dia tampil sebagai bagian dari kepribadian Syams dan dengan begitu dapat diserahi tugas untuk menyimpan rahasia, seperti yang ditulis Maulana dalam Diwan:
Lebih baik jika sahabat tetap tertabiri!
Mari, dengarkan kisah ini:
Lebih baik misteri ini diceritakan
Dalam kisah orang lain, kisah lama! (M; 141)
Permintaan Husamuddin tentang Syams ditolak oleh Maulana yang akhirnya menenangkannya dengan baris-baris ini:

Wahai yang namanya adalah makanan lezat
Bagi jiwaku yang mabuk! (D 2229)
Namyn, di akhir karya itu, Maulana bercerita tentang Zulaikha, istri Potiphar dan kerinduannya kepada Yusuf yang tampan
Jangan menangis: "Aduhai kenapa pergi!"
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, "Selamat tinggal"
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911)
Dia juga menghibur teman-temannya dengan memperingatkan mereka bahwa kematian bukan perpisahan, tetapi pembebasan bagi burung jiwa:
Bila gandum dari debuku,
Dan bila dimasak jadi roti-kemabukan
Akan bertambah.
Adonan; mabuk!Dan tukang roti!
Ovennya pun akan menyanyikan mazmur
Yang ekstatis!
Bila Datang ke makamku untuk mengunjungiku
Jangan datang ke makamku tanpa genderang,
Karena pada perjalanan Tuhan,
Orang yang berduka tidak diberi tempat (D 683)
Dan dia berkata dengan penuh semangat kepada mereka:





Penduduk Kota, tua dan muda
Semuanya meratap, menangis, mengeluh keras,
Orang-orang desa, orang-orang Turki dan Yunani,
Mereka mencbik-cabik pakaian mereka
Karena perasaan sedih
Atas meninggalnya orang yang agung ini’
"Ia adalah Musa!"
Kata orang-orang yahudi.....(VN 121)
Maulana meninggal dunia pada senja hari, 17 Desember 1273, dan setiap orang di Konya-baik yang kristen, Yahudi, maupun muslim-menghadiri pemakamannya, seperti yang dikatakan oleh putranya
Di manakah aku, di manakah puisi?
Tetapi orang Turki membisikiku:
Hai, siapakah engkau? (D1949)
Bait diatas, yang ditulis dalam bahasa Turki, mengungkapkan sikap Maulana terhadap syairnya sendiri
Simpanlah kata-kata Persiamu,
Aku akan berucap dalam bahasa Arab:
"Jiwa kita dihibur oleh anggur."
Dikisahkan Syams sama sekali tidak menyukai puisi-puisi itu dan mengungkapkan ketidaksukaannya ini kepada sahabatnya dalam suatu ini kepada sahabatnya dalam mimpi yang aneh dimana Syams mengguncang-guncangkan Mutannabi yang tua itu bagaikan boneka usang. Namun, masih saja orang mendapati kiasan-kiasan dan kutipan-kutipan yang berasal dari Mutannabi dalam syair-syair Maulana dan juga dalam Fihi ma fihi, seperti dalam syair penutup dari sebuah ghazal
Sahabatku yang seorang tabib mengisi cangkir
Tinggalkan
Fa’iliun mufta’ilun dan fa’ilatun dan fa’i
Dia mengisi suatu baris dengan kata-kata bahasa Arab yang menarik perhatian untuk matra, fa’ilatun mufta’ilun "ini telah membunuhku", atau dia berkata dengan akhiran (ending) bahasa Arab
Separuh dari ghazal belum lagi terucap dari mulutku
Tapi sayang,aku telah kehilangan kepala
Dan kaki! (D 2378)
Di tempat lain dia mengeluh
Tanpa kehadiranmu,
Sama (tarian berputar) itu haram...
Tak satu ghazal pun terucap tanpa kehadiranmu,
Namun, dalam kesukaan mendengar namamu (disebut)
Lima, enam ghazal tercipta. (D 1760)
Orang sering kali tergoda untuk bertepuk tangan dan menafsirkan kembali irama musiknya, dan irama musiknya inilah yang melahirkan syair ini atau itu.
Musim semi telah datang, musim semi telah datang,
Musim semi yang penuh dengan bunga-bunga
Telah datang.
Kawanku telah datang, kawanku telah datang,
Kawanku yang memikul beban telah datang ...
Muncunya puisi dari gerakan tarian ini juga menjelaskan kecenderungan Maulana pada pengulangan dan anafora-anafora yang panjang
Mari,mari kasih, mari kasih,
Masuk, masuklah ke dalam karyaku,
Ke dalam karyaku!
Kau, kaulah taman mawarku, taman mawarku;
Katakan, katakanlah rahasiaku, rahasiaku.
Dalam nada yang lebih kuat, tampak pada puisi
Kudengar omong kosong yang diucapkan oleh musuh,
Dalam hatiku. (D 1623)
Dalam beberapa hal tertentu, kita mengetahui bagaimana suatu kesan sensasional dapat melahirkan baris pertama dalam puisi, seperti ketika seseorang mengobrol dalam pertemuan sama’ telah membuat Rumi merasa terganggu

Dil ku? Dil ku?
Di mana hati? Dimana hati?
Kisah tentang seorang penjaja barang yang melewati rumah Maulana dengan membawa kulit serigala untuk dijual. Teriakannya dalam bahasa Turki: "tilku, tilku" (serigala-serigala!), segera memberikan ilham kepada Maulana untuk menulis sebuah puisi yang dimulai dengan kata-kata diatas
Pada suatu hari seorang kurdi kehilangan keledainya
atau kalau mungkin dia bertanya:
Apa yang kaumakan?Biarkan aku menciumnya!
Dalam banyak puisi, baris pertama bersifat provokatif. Hal ini dimaksudkan untuk menarik perhatian pendengarnya. Penyair dapat mengacu pada kisah yang lucu:
Cukup, cukup! Kau cuma kuda seorang penjaja air,
Bila telah didapatkannya seorang pembeli,
Maka diambilnya lonceng kecil
Yang terkalung di leher (kuda) itu. (D 25)
Tampaknya kecenderungan untuk menyuruh orang diam ketika inspirasi datang, atau ketika merasa sudah cukup banyak berbicara, merupakan bagian dari suatu inspirasi
Apakah ini Sinar Ilahiah?
Apakah ini datang dari dekat Tuhan? (D 2279)
Puisi-puisi terdahulu tak pernah menyebut nama Syamsi Tabriz secara langsung tetapi mengiaskannya secara halus dengan Matahari atau permainan dengan istilah-istilah astronomi
Aku baca kisah cinta itu siang dan malam
Kini, aku akan menjadi sebuah kisah dalam cintaku
Kepadamu (D 1499)
Kadang-kadang Maulana merenungi arti puisi. Mengapa dia sendiri merasa terdorong untuk mengutarakan semua syair ini?



Setiap utas rambutku telah berubah
Menjadi syair dan ghazal
Berkat cintamu. (D2329)
Tentu saja dia menyadari sumber inspirasi:
Beri aku ciuman untuk setiap puisi!
Kadang-kadang dia bercanda dengan yang dicintai yang telah memintanya membawakan sebuah puisi
Aku katakan "empat syair", tetapi ia mengatakan,
"Tidak, sesuatu yang lebih baik!"
Baik-tetapi sebelumnya beri aku anggur yang keras! (D 2080)
Dalam puisi lain dia mengatakan
Kalau aku tidak melantunkan sebuah ghazal,
Dia robek mulutku!
Kadang-kadang dia mengeluh bahwa walaupun dia tidak ingin menyanyi,
Bulan pribadi itu wajahnya,
Syair dan ghazal itu aromanya-
Aroma itu bagian dia yang tak kenal melihat (D 468)
Salah satu perbandingan terbagus adalah perbandingan puisi dengan aroma baju Yusuf
Entah kau itu Arab atau Yunani atau Turki-
Pelajarilah lidah tanpa lidah! (D 1183)
Rumi memahami bahwa bahasa menyembunyikan sebanyak yang diungkapkan
Seruku: "Ke mana perginya hati yang mabuk?"
Kata rajanya raja: "Diamlah, ia menuju kami!"
Dan ketika penyair mencari dalam hatinya, dia diperingatkan agar diam:
Tanpa katamu, jiwa tak bertelinga,
Tanpa telinga, jiwa tak berlidah...(D 697)
Berkali-kali Maulana mengatakan:

Kuberpikir tentang sajak,
Tapi sang tercintaku bilang:
"Jangan memikirkan apa-apa,
Pikirkan saja wajahku!"
Dalam Matsnawi dia mengakui:
Kala kucari damai,
Dialah penolong sejati
Kala kupergi berperang,
Belati, itulah dia;
Kala ku pergi ke pertemuan,
Dialah anggur dan manisan.
Kala aku ketaman,
Keharuman itulah dia.
Kala aku ke pertambangan,
Dialah batu deliama disana.
Kala aku menyelam ke lautan,
Dialah mutiara.
Kala aku ke gurun,
Dialah taman disana.
Kala aku ke langit,
Dialah bintang terang...
Kala kutulis surat
Ke sahabat-sahabat tercintaku,
Kertas dan tempat tinta,
Tinta, pena, itulah dia.
Kala kutulis syair
Dan kucari syair
Dan kucari kata bersajak
Yang membentangkan sajak-sajak
Dalam pikiranku, itulah dia! (D 2251)
Persatuan penuh dengan sang tercinta mistis, yang menjadi dasar dari sedemikian banyak syair, terungkapkan dalam sebuah ghazal yang memesonakan
Kuh kun az kullaha...
Ciptakan gunung tengkorak,
Ciptakan lautan dan darah kita... (D 1304)
Ada baris-baris seperti diatas yang menakutkan dengan efek literasi yang keras sekali
Demi macan tutul (palang) keagunganmu,
Demi buaya (nihang) kecemburuanmu,
Demi landak kecil (khadang)
Pandangan sekilasmu, (D 772)
Dia sering menggunakan perkataan jenaka dan bersumpah
Di tapak tangan kami ada anggur (bada)
Dan kepala kami ada angin (bad), (D 7723)
Dia mengeluh (atau berbangga, barangkali?)
Hai, tuan, burung macam apa kamu?
Namamu? Untuk apa kamu?
Kau tak terbang, kau tak merumput,
Kau burung kecil!
Kau bagaikan burung unta. Ketika diperintah,
"Ayo terbang!" kau akan bilang,
"Aku unta Arab!-kapan
Unta pernah terbang?"
Kala tiba waktunya untuk membawa muatan,
Kau bilang, "Tidak, aku ini burung!
Kapan burung membawa muatan? Tolong,
Jangan lagi ucapkan kata-kata menyebalkan ini!" (D 2622)
Sindiran tentang seseorang yang tidak dapat percaya
Untuk apa takut pada sengatan kalajengking,
Duhai bulan,
Sebab aku tenggelam dalam madu, seperti lebah? (D 1015)
Juga, bisa dijumpai kiasan-kiasan tersembunyi mengenai tradisi atau folklore (hikayat)
Karena kusebut-sebut untanya pada baris pertama,
Dan akhirnya unta itu panjang. (D 1828)
Dia akan berkelakar bahwa syairnya bertele-tele jadinya:
Kalau bicaraku tak pantas bagi bibirmu,
Ambillah batu besar, lalu remukkan mulutku!
Bila bayi mengoceh, bukankah ibu yang baik
Meletakkan jarum dibibirnya
Sebagai pengajaran baginya? (D 2083)
Kelihatannya daya ungkapan itu kadang-kadang nyaris menakutkan penyair itu sendiri. Dia bahkan takut, jangan-jangan dia melukai perasaan sang sahabat
Tinggalkan ghazal-
Tetaplah pada azal (pra keabadian). (D 2115)
Dia memperingatkan dirinya sendiri di akhir sebuah ghazal
Taman bunga mawar dan tumbuhan basil
Yang manis, segala macam anemone
Tempat tumbuhan bunga violet pada debu,
Dan angin serta air dan api, duhai hati!
Tanah-tanah kosong di kota dipenuhi dengan tanaman semak kacang polong; lalu berbagai dedaunan akan tumbuh di tepi sungai-sungai yang mengalir ke lereng gunung di Meram
Salju selalu berkata: "Aku akan meleleh,
Menjadi sungai,
Aku akan ke laut, sebab aku bagian dari lautan!
Aku sendirian, keras, lagi membeku,
Dan lagi gigi penderitaan dikunyah seperti es!" (D 1033)
Ungkapan tentang taman kepunyaan Husamuddin Syalabi
Dalam kefanaan penuh aku berkata:
"Duhai rajanya raja, semua citra meleleh
Dalam api ini!"
Dia berkata: "Sapaanmu tetap merupakan sisa
Salju ini-
Selagi ada salju, tersembunyilah bunga mawar merah!" (D 1033)
Maulana mengerti bahwa sedikit saja condong pada kehidupan materi bisa menghalangi manusia dari sepenuhnya persatuan dengan sang Tercinta
Bawang, bawang bakung dan bunga apiun
Akan mengungkapkan rahasia musim dingin-
Sebagian akan segar
(harfiahnya "dengan kepala berwarna hijau"),
Sebagian lagi menundukkan kepala
Seperti bunga violet! (M V 1801)
Ini bukanlah perkataan Rumi melainkan perkataan penafsir modernya yang utama, Muhammad Iqbal. Dalam perubahan ini, yaitu dari khalwah ke jilwah, Muhammad Iqbal melihat rahasia sejati kehidupan manusia
Kalau burung gagak tahu bahwa dirinya buruk,
Ia akan meleleh seperti salju karena sedih!
Selama musim dingin, benih-benih yang tampak berjejalan di bawah debu mempersiapkan kebangkitan-kembalinya pada musim semi
Burung bangau "Jiwa" telah tiba;
Telah tiba pula musim semi!-dimana kamu?
Dunia semarak dengan dedaunan
Dan bunga mawar nan cantik! (D 25854)
Orang amat senang menyaksikan petunjuk hidup bahwa musim semi sudah dekat
Wajah air yang bak berisi di musim dingin
Telah menjadi baju rantai (lemena) berkat angin-
Musim semi yang baru ini
Bisa jadi Daudnya masa kini,
Yang menenun lemena dari es! (D 2120)
Ketika mentari sudah masuk ke dalam Aries, maka musim semi, seperi nabi, dapat memperlihatkan mukjizatnya; mukjizat yang hanya dimiliki oleh nabi-nabi seperti Daud
Tanpa kedua mata-dua awan-penerang hati:
Api ancaman Tuhan, mana mungkin terpadamkan?
Bagamana dedaunan akan tumbuh dari persatuan,
Yang manis rasanya?
Bagaimana mata air akan memancarkan air murni?
Bagaimana tempat tumbuhnya belukar bunga mawar
Akan membeberkan rahasianya
Kepada padang rumput?
Bagaimana bunga violet akan membuat ikatan
Dengan bunga melati?
Bagaimana pohon plane
Akan mengangkat tangan-tangannya dalam doa?
Bagaimana pucuk-pucuk pohon
Akan meliuk-liuk di udara Cinta?
Bagaiman bunga-bunga
Akan mengguncang-guncangkan lengan bajunya
Pada musim semi
Untuk menebarkan butiran-butiran indahnya
Di taman yang luas?
Bagaimana pipi bunga tulip akan merah warnanya
Seperti api dan darah?
Bagaimana bunga mawar akan mengulurkan emasnya
Dari pundi-pundinya?
Bagaimana burung bulbul
Akan mengendus keharuman bunga mawar?
bagaimana suara merpati
Akan seperti sang pencari "Dimana,
Duhai dimana?"
Bagaimana burung bangau akan mengulang
Lak-laknya dari jiwanya,
Untuk mengatakan: "Duhai Yang Maha Penolong,
Milik-Mulah kerajaan, milik-Mulah!"
Bagaimana debu akan mengungkapkan rahasia hatinya?
Bagaimana langit
Akan menjadi taman yang mandi cahaya? (M II : 1655-64)
Bagaimana alam pada musim semi amat serupa dengan perilaku manusia
Engkaulah langitku, dan aku buminya,
Yang kebingungan
Apa yang membuatmu terus mengalir dari hatiku?
Akulah tanah berbibir kering!bawakan air
Yang akan menumbuhkan bunga mawar dari tanah ini!
Bagaimana bumi tahu
Apa yang dikau taburkan dalam hatinya?
Karena kamulah, tanah ini mengandung,
Dan kamu pun tahu bebannya! (D 3048)
Rumu menspiritualisasikan dan, menerapkannya pada keadaannya sendiri
Ranting pun mulai menari seperti orang yang bertobat
(yang baru saja menapak dijalan tasawuf),
Dedaunan pun bertepuk tangan
Seperti penyanyi pengembara (M IV 3264)
Karunia itu dari Tuhan, namun orang
Takkan menemukan karunia tanpa tabir "Taman" (M V 2338)
Semua bunga mawar, meski sisi luarnya
Kelihatan seperti duri;
Itulah cahaya dari Belukar Terbakar,
Meski keliatannya seperti api! (D 859)
Seperti kucing yang membawa anaknya
Dengan mulutnya
Kenapa tak kau lihat ibu-ibu ditaman? (D 2854)
Maulana memandang taman dengan mata cinta dan mengajak teman-temannya untuk bersama-sama mengagumi tunas-tunas yang baru tumbuh
"Kami menyembah-Mu!"-itulah doa taman
Dimusim dingin.
"Kami minta tolong hanya pada-Mu!"
Itulah rengeknya di musim semi.
"Kami menyembah-Mu!-itu arti aku datang
Memohon pada-Mu:
"Jangan tinggalkan diriku dalam kesedihan ini, Tuhan,
Bukalah lebar-lebar pintu kegembiraan!
"Kami minta tolong pada-Mu, Tuhan"-yaitu
Kelimpahan buah yang masak lagi manis rasanya.
Nah patahkanlah dahan dan rantingku-
Lindungilah daku, Ya Alloh Ya Tuhanku! (D 2046)
Kamilah bayi merpati
Yang berada dalam perlindunganmu,
Kami kelilingi serambi rerantingan (D 1673)
Kisah pemimpin spiritual-unta itupun bergerak gembira mengarungi padang pasir dan stepa:
Lihatlah anting-anting hidung pencinta di tanganmu
Siang malam aku ada di barisan unta ini! (D 302)
Di taman ada beratus-ratus kekasih nan menawan
Bunga mawar dan bunga tulip menari berputar-putar
Di anak sungainya mengalir air bening,
Semuanya ini hanyalah helat (dalih)-itulah Dia!
Jika itu kedengarannya penteistik, akan timbul pertanyaan mengapa putra Maulana, yang sekaligus penulis riwayat hidup Maulana, yaitu Sultan Walad, menjelaskan pandangan ini:
Barang siapa memiliki cahaya yang dimiliki malaikat, dia tidak akan tertegun dengan lempung Adam, malahan dia melihat dalam diri Adam cahaya Tuhan, Memang barang siapa semakin sempurna, dia akan melihat dalam batu, jerami, kayu, dalam segala sesuatu dan dalam atom, adanya Tuhan, seperti yang dilihat dan diucapkan Bayazid: "Tidak pernah aku melihat sesuatu tanpa kulihat di dalamnya Tuhan." (VN 171)
Taman dan buah-buahan ada dalam hati
Dalam air dan lempung ini yang ada
Hanyalah pantulan kemurahan hati-Nya (M IV 1357f.)
Namun baris sajak yang terakhir ini tidak seperti ini tidak sepenuhnya mencerminkan sikap personal Maulana. Sebab;
Berkat pandangan mentari,
Tanah menjadi tumbuhnya bunga tulip
Kini duduk di rumah adalah bencana, bencana! (D 1346)
Segala yang dapat kamu pikir itu fana.
Yang tidak dapat terpikirkan, itulah Tuhan! (M II 3107)

Minggu, 16 November 2008

Sayap-sayap jibril dan malaikat menjadi biru;
Demi kau, orang-orang suci
Dan para rasul telah menangis....(D 2364)
Maulana menyanyikan lagu pemakaman yang sangat mengharukan, yang mengandung sajak berulang girista (telah mengangis)




Kata guru ; Untuk pemakamanku,
Ambilah genderang, rebana, dan gendang
Wahai teman-temanku,
Bergembira, bersuka ria, bertepuklah! (V 1112)
Pemakaman sang pandai emas pun bertabuh menjadi tarian berputar (sama), untuk memenuhi keinginannya sendiri, seperti dituturkan putranya Sultan Walad
Jiwa jamaah ini maju terus
Selangkah demi selangkah menuju jamaah,
Matahari di keningnya, dan ditangannya
Cawan demi cawan......(D 1583)
Nama Husamuddin disebutkan, dan dalam sebuah syair liris lainnya namanya muncul secara jelas dan kadang-kadang tersembunyi, seperti dalam lagu tarian suka cita berikut ini yang berakhir dengan permainan kata-kata:
Jika kau adalah sebuah nama-kini nama itu
Bercampur dengan yang dinamai
Tidak! Nama itu bagaikan sarung, dan yang dinamai
Adalah pedangnya (Husam).
Pada akhirnya Maulana menggunakan bahasa Arab:
Wahai Husamuddin, tuliskan penjelasan
Tentang Sultan Cinta (yaitu Syamsuddin). (D 738)
Karenanya, dia tampil sebagai bagian dari kepribadian Syams dan dengan begitu dapat diserahi tugas untuk menyimpan rahasia, seperti yang ditulis Maulana dalam Diwan:
Lebih baik jika sahabat tetap tertabiri!
Mari, dengarkan kisah ini:
Lebih baik misteri ini diceritakan
Dalam kisah orang lain, kisah lama! (M; 141)
Permintaan Husamuddin tentang Syams ditolak oleh Maulana yang akhirnya menenangkannya dengan baris-baris ini:

Wahai yang namanya adalah makanan lezat
Bagi jiwaku yang mabuk! (D 2229)
Namyn, di akhir karya itu, Maulana bercerita tentang Zulaikha, istri Potiphar dan kerinduannya kepada Yusuf yang tampan
Jangan menangis: "Aduhai kenapa pergi!"
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, "Selamat tinggal"
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911)
Dia juga menghibur teman-temannya dengan memperingatkan mereka bahwa kematian bukan perpisahan, tetapi pembebasan bagi burung jiwa:
Bila gandum dari debuku,
Dan bila dimasak jadi roti-kemabukan
Akan bertambah.
Adonan; mabuk!Dan tukang roti!
Ovennya pun akan menyanyikan mazmur
Yang ekstatis!
Bila Datang ke makamku untuk mengunjungiku
Jangan datang ke makamku tanpa genderang,
Karena pada perjalanan Tuhan,
Orang yang berduka tidak diberi tempat (D 683)
Dan dia berkata dengan penuh semangat kepada mereka:





Penduduk Kota, tua dan muda
Semuanya meratap, menangis, mengeluh keras,
Orang-orang desa, orang-orang Turki dan Yunani,
Mereka mencbik-cabik pakaian mereka
Karena perasaan sedih
Atas meninggalnya orang yang agung ini’
"Ia adalah Musa!"
Kata orang-orang yahudi.....(VN 121)
Maulana meninggal dunia pada senja hari, 17 Desember 1273, dan setiap orang di Konya-baik yang kristen, Yahudi, maupun muslim-menghadiri pemakamannya, seperti yang dikatakan oleh putranya
Di manakah aku, di manakah puisi?
Tetapi orang Turki membisikiku:
Hai, siapakah engkau? (D1949)
Bait diatas, yang ditulis dalam bahasa Turki, mengungkapkan sikap Maulana terhadap syairnya sendiri
Simpanlah kata-kata Persiamu,
Aku akan berucap dalam bahasa Arab:
"Jiwa kita dihibur oleh anggur."
Dikisahkan Syams sama sekali tidak menyukai puisi-puisi itu dan mengungkapkan ketidaksukaannya ini kepada sahabatnya dalam suatu ini kepada sahabatnya dalam mimpi yang aneh dimana Syams mengguncang-guncangkan Mutannabi yang tua itu bagaikan boneka usang. Namun, masih saja orang mendapati kiasan-kiasan dan kutipan-kutipan yang berasal dari Mutannabi dalam syair-syair Maulana dan juga dalam Fihi ma fihi, seperti dalam syair penutup dari sebuah ghazal
Sahabatku yang seorang tabib mengisi cangkir
Tinggalkan
Fa’iliun mufta’ilun dan fa’ilatun dan fa’i
Dia mengisi suatu baris dengan kata-kata bahasa Arab yang menarik perhatian untuk matra, fa’ilatun mufta’ilun "ini telah membunuhku", atau dia berkata dengan akhiran (ending) bahasa Arab
Separuh dari ghazal belum lagi terucap dari mulutku
Tapi sayang,aku telah kehilangan kepala
Dan kaki! (D 2378)
Di tempat lain dia mengeluh
Tanpa kehadiranmu,
Sama (tarian berputar) itu haram...
Tak satu ghazal pun terucap tanpa kehadiranmu,
Namun, dalam kesukaan mendengar namamu (disebut)
Lima, enam ghazal tercipta. (D 1760)
Orang sering kali tergoda untuk bertepuk tangan dan menafsirkan kembali irama musiknya, dan irama musiknya inilah yang melahirkan syair ini atau itu.
Musim semi telah datang, musim semi telah datang,
Musim semi yang penuh dengan bunga-bunga
Telah datang.
Kawanku telah datang, kawanku telah datang,
Kawanku yang memikul beban telah datang ...
Muncunya puisi dari gerakan tarian ini juga menjelaskan kecenderungan Maulana pada pengulangan dan anafora-anafora yang panjang
Mari,mari kasih, mari kasih,
Masuk, masuklah ke dalam karyaku,
Ke dalam karyaku!
Kau, kaulah taman mawarku, taman mawarku;
Katakan, katakanlah rahasiaku, rahasiaku.
Dalam nada yang lebih kuat, tampak pada puisi
Kudengar omong kosong yang diucapkan oleh musuh,
Dalam hatiku. (D 1623)
Dalam beberapa hal tertentu, kita mengetahui bagaimana suatu kesan sensasional dapat melahirkan baris pertama dalam puisi, seperti ketika seseorang mengobrol dalam pertemuan sama’ telah membuat Rumi merasa terganggu

Dil ku? Dil ku?
Di mana hati? Dimana hati?
Kisah tentang seorang penjaja barang yang melewati rumah Maulana dengan membawa kulit serigala untuk dijual. Teriakannya dalam bahasa Turki: "tilku, tilku" (serigala-serigala!), segera memberikan ilham kepada Maulana untuk menulis sebuah puisi yang dimulai dengan kata-kata diatas
Pada suatu hari seorang kurdi kehilangan keledainya
atau kalau mungkin dia bertanya:
Apa yang kaumakan?Biarkan aku menciumnya!
Cukup, cukup! Kau cuma kuda seorang penjaja air,
Bila telah didapatkannya seorang pembeli,
Maka diambilnya lonceng kecil
Yang terkalung di leher (kuda) itu. (D 25)
Apakah ini Sinar Ilahiah?
Apakah ini datang dari dekat Tuhan? (D 2279)
Aku baca kisah cinta itu siang dan malam
Kini, aku akan menjadi sebuah kisah dalam cintaku
Kepadamu (D 1499)
Setiap utas rambutku telah berubah
Menjadi syair dan ghazal
Berkat cintamu. (D2329)
Sayap-sayap jibril dan malaikat menjadi biru;
Demi kau, orang-orang suci
Dan para rasul telah menangis....(D 2364)
Maulana menyanyikan lagu pemakaman yang sangat mengharukan, yang mengandung sajak berulang girista (telah mengangis)




Kata guru ; Untuk pemakamanku,
Ambilah genderang, rebana, dan gendang
Wahai teman-temanku,
Bergembira, bersuka ria, bertepuklah! (V 1112)
Pemakaman sang pandai emas pun bertabuh menjadi tarian berputar (sama), untuk memenuhi keinginannya sendiri, seperti dituturkan putranya Sultan Walad
Jiwa jamaah ini maju terus
Selangkah demi selangkah menuju jamaah,
Matahari di keningnya, dan ditangannya
Cawan demi cawan......(D 1583)
Nama Husamuddin disebutkan, dan dalam sebuah syair liris lainnya namanya muncul secara jelas dan kadang-kadang tersembunyi, seperti dalam lagu tarian suka cita berikut ini yang berakhir dengan permainan kata-kata:
Jika kau adalah sebuah nama-kini nama itu
Bercampur dengan yang dinamai
Tidak! Nama itu bagaikan sarung, dan yang dinamai
Adalah pedangnya (Husam).
Pada akhirnya Maulana menggunakan bahasa Arab:
Wahai Husamuddin, tuliskan penjelasan
Tentang Sultan Cinta (yaitu Syamsuddin). (D 738)
Karenanya, dia tampil sebagai bagian dari kepribadian Syams dan dengan begitu dapat diserahi tugas untuk menyimpan rahasia, seperti yang ditulis Maulana dalam Diwan:
Lebih baik jika sahabat tetap tertabiri!
Mari, dengarkan kisah ini:
Lebih baik misteri ini diceritakan
Dalam kisah orang lain, kisah lama! (M; 141)
Permintaan Husamuddin tentang Syams ditolak oleh Maulana yang akhirnya menenangkannya dengan baris-baris ini:

Wahai yang namanya adalah makanan lezat
Bagi jiwaku yang mabuk! (D 2229)
Namyn, di akhir karya itu, Maulana bercerita tentang Zulaikha, istri Potiphar dan kerinduannya kepada Yusuf yang tampan
Jangan menangis: "Aduhai kenapa pergi!"
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, "Selamat tinggal"
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911)
Dia juga menghibur teman-temannya dengan memperingatkan mereka bahwa kematian bukan perpisahan, tetapi pembebasan bagi burung jiwa:
Bila gandum dari debuku,
Dan bila dimasak jadi roti-kemabukan
Akan bertambah.
Adonan; mabuk!Dan tukang roti!
Ovennya pun akan menyanyikan mazmur
Yang ekstatis!
Bila Datang ke makamku untuk mengunjungiku
Jangan datang ke makamku tanpa genderang,
Karena pada perjalanan Tuhan,
Orang yang berduka tidak diberi tempat (D 683)
Dan dia berkata dengan penuh semangat kepada mereka:





Penduduk Kota, tua dan muda
Semuanya meratap, menangis, mengeluh keras,
Orang-orang desa, orang-orang Turki dan Yunani,
Mereka mencbik-cabik pakaian mereka
Karena perasaan sedih
Atas meninggalnya orang yang agung ini’
"Ia adalah Musa!"
Kata orang-orang yahudi.....(VN 121)
Maulana meninggal dunia pada senja hari, 17 Desember 1273, dan setiap orang di Konya-baik yang kristen, Yahudi, maupun muslim-menghadiri pemakamannya, seperti yang dikatakan oleh putranya
Di manakah aku, di manakah puisi?
Tetapi orang Turki membisikiku:
Hai, siapakah engkau? (D1949)
Bait diatas, yang ditulis dalam bahasa Turki, mengungkapkan sikap Maulana terhadap syairnya sendiri
Simpanlah kata-kata Persiamu,
Aku akan berucap dalam bahasa Arab:
"Jiwa kita dihibur oleh anggur."
Dikisahkan Syams sama sekali tidak menyukai puisi-puisi itu dan mengungkapkan ketidaksukaannya ini kepada sahabatnya dalam suatu ini kepada sahabatnya dalam mimpi yang aneh dimana Syams mengguncang-guncangkan Mutannabi yang tua itu bagaikan boneka usang. Namun, masih saja orang mendapati kiasan-kiasan dan kutipan-kutipan yang berasal dari Mutannabi dalam syair-syair Maulana dan juga dalam Fihi ma fihi, seperti dalam syair penutup dari sebuah ghazal
Sahabatku yang seorang tabib mengisi cangkir
Tinggalkan
Fa’iliun mufta’ilun dan fa’ilatun dan fa’i
Dia mengisi suatu baris dengan kata-kata bahasa Arab yang menarik perhatian untuk matra, fa’ilatun mufta’ilun "ini telah membunuhku", atau dia berkata dengan akhiran (ending) bahasa Arab
Separuh dari ghazal belum lagi terucap dari mulutku
Tapi sayang,aku telah kehilangan kepala
Dan kaki! (D 2378)
Di tempat lain dia mengeluh
Tanpa kehadiranmu,
Sama (tarian berputar) itu haram...
Tak satu ghazal pun terucap tanpa kehadiranmu,
Namun, dalam kesukaan mendengar namamu (disebut)
Lima, enam ghazal tercipta. (D 1760)
Orang sering kali tergoda untuk bertepuk tangan dan menafsirkan kembali irama musiknya, dan irama musiknya inilah yang melahirkan syair ini atau itu.
Musim semi telah datang, musim semi telah datang,
Musim semi yang penuh dengan bunga-bunga
Telah datang.
Kawanku telah datang, kawanku telah datang,
Kawanku yang memikul beban telah datang ...
Muncunya puisi dari gerakan tarian ini juga menjelaskan kecenderungan Maulana pada pengulangan dan anafora-anafora yang panjang
Mari,mari kasih, mari kasih,
Masuk, masuklah ke dalam karyaku,
Ke dalam karyaku!
Kau, kaulah taman mawarku, taman mawarku;
Katakan, katakanlah rahasiaku, rahasiaku.
Dalam nada yang lebih kuat, tampak pada puisi
Kudengar omong kosong yang diucapkan oleh musuh,
Dalam hatiku. (D 1623)
Dalam beberapa hal tertentu, kita mengetahui bagaimana suatu kesan sensasional dapat melahirkan baris pertama dalam puisi, seperti ketika seseorang mengobrol dalam pertemuan sama’ telah membuat Rumi merasa terganggu

Dil ku? Dil ku?
Di mana hati? Dimana hati?
Kisah tentang seorang penjaja barang yang melewati rumah Maulana dengan membawa kulit serigala untuk dijual. Teriakannya dalam bahasa Turki: "tilku, tilku" (serigala-serigala!), segera memberikan ilham kepada Maulana untuk menulis sebuah puisi yang dimulai dengan kata-kata diatas
Pada suatu hari seorang kurdi kehilangan keledainya
atau kalau mungkin dia bertanya:
Apa yang kaumakan?Biarkan aku menciumnya!
Cukup, cukup! Kau cuma kuda seorang penjaja air,
Bila telah didapatkannya seorang pembeli,
Maka diambilnya lonceng kecil
Yang terkalung di leher (kuda) itu. (D 25)
Apakah ini Sinar Ilahiah?
Apakah ini datang dari dekat Tuhan? (D 2279)
Aku baca kisah cinta itu siang dan malam
Kini, aku akan menjadi sebuah kisah dalam cintaku
Kepadamu (D 1499)
Setiap utas rambutku telah berubah
Menjadi syair dan ghazal
Berkat cintamu. (D2329)
Sayap-sayap jibril dan malaikat menjadi biru;
Demi kau, orang-orang suci
Dan para rasul telah menangis....(D 2364)
Maulana menyanyikan lagu pemakaman yang sangat mengharukan, yang mengandung sajak berulang girista (telah mengangis)




Kata guru ; Untuk pemakamanku,
Ambilah genderang, rebana, dan gendang
Wahai teman-temanku,
Bergembira, bersuka ria, bertepuklah! (V 1112)
Pemakaman sang pandai emas pun bertabuh menjadi tarian berputar (sama), untuk memenuhi keinginannya sendiri, seperti dituturkan putranya Sultan Walad
Jiwa jamaah ini maju terus
Selangkah demi selangkah menuju jamaah,
Matahari di keningnya, dan ditangannya
Cawan demi cawan......(D 1583)
Nama Husamuddin disebutkan, dan dalam sebuah syair liris lainnya namanya muncul secara jelas dan kadang-kadang tersembunyi, seperti dalam lagu tarian suka cita berikut ini yang berakhir dengan permainan kata-kata:
Jika kau adalah sebuah nama-kini nama itu
Bercampur dengan yang dinamai
Tidak! Nama itu bagaikan sarung, dan yang dinamai
Adalah pedangnya (Husam).
Pada akhirnya Maulana menggunakan bahasa Arab:
Wahai Husamuddin, tuliskan penjelasan
Tentang Sultan Cinta (yaitu Syamsuddin). (D 738)
Karenanya, dia tampil sebagai bagian dari kepribadian Syams dan dengan begitu dapat diserahi tugas untuk menyimpan rahasia, seperti yang ditulis Maulana dalam Diwan:
Lebih baik jika sahabat tetap tertabiri!
Mari, dengarkan kisah ini:
Lebih baik misteri ini diceritakan
Dalam kisah orang lain, kisah lama! (M; 141)
Permintaan Husamuddin tentang Syams ditolak oleh Maulana yang akhirnya menenangkannya dengan baris-baris ini:

Wahai yang namanya adalah makanan lezat
Bagi jiwaku yang mabuk! (D 2229)
Namyn, di akhir karya itu, Maulana bercerita tentang Zulaikha, istri Potiphar dan kerinduannya kepada Yusuf yang tampan
Jangan menangis: "Aduhai kenapa pergi!"
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, "Selamat tinggal"
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911)
Dia juga menghibur teman-temannya dengan memperingatkan mereka bahwa kematian bukan perpisahan, tetapi pembebasan bagi burung jiwa:
Bila gandum dari debuku,
Dan bila dimasak jadi roti-kemabukan
Akan bertambah.
Adonan; mabuk!Dan tukang roti!
Ovennya pun akan menyanyikan mazmur
Yang ekstatis!
Bila Datang ke makamku untuk mengunjungiku
Jangan datang ke makamku tanpa genderang,
Karena pada perjalanan Tuhan,
Orang yang berduka tidak diberi tempat (D 683)
Dan dia berkata dengan penuh semangat kepada mereka:





Penduduk Kota, tua dan muda
Semuanya meratap, menangis, mengeluh keras,
Orang-orang desa, orang-orang Turki dan Yunani,
Mereka mencbik-cabik pakaian mereka
Karena perasaan sedih
Atas meninggalnya orang yang agung ini’
"Ia adalah Musa!"
Kata orang-orang yahudi.....(VN 121)
Maulana meninggal dunia pada senja hari, 17 Desember 1273, dan setiap orang di Konya-baik yang kristen, Yahudi, maupun muslim-menghadiri pemakamannya, seperti yang dikatakan oleh putranya
Di manakah aku, di manakah puisi?
Tetapi orang Turki membisikiku:
Hai, siapakah engkau? (D1949)
Bait diatas, yang ditulis dalam bahasa Turki, mengungkapkan sikap Maulana terhadap syairnya sendiri
Simpanlah kata-kata Persiamu,
Aku akan berucap dalam bahasa Arab:
"Jiwa kita dihibur oleh anggur."
Dikisahkan Syams sama sekali tidak menyukai puisi-puisi itu dan mengungkapkan ketidaksukaannya ini kepada sahabatnya dalam suatu ini kepada sahabatnya dalam mimpi yang aneh dimana Syams mengguncang-guncangkan Mutannabi yang tua itu bagaikan boneka usang. Namun, masih saja orang mendapati kiasan-kiasan dan kutipan-kutipan yang berasal dari Mutannabi dalam syair-syair Maulana dan juga dalam Fihi ma fihi, seperti dalam syair penutup dari sebuah ghazal
Sahabatku yang seorang tabib mengisi cangkir
Tinggalkan
Fa’iliun mufta’ilun dan fa’ilatun dan fa’i
Dia mengisi suatu baris dengan kata-kata bahasa Arab yang menarik perhatian untuk matra, fa’ilatun mufta’ilun "ini telah membunuhku", atau dia berkata dengan akhiran (ending) bahasa Arab
Separuh dari ghazal belum lagi terucap dari mulutku
Tapi sayang,aku telah kehilangan kepala
Dan kaki! (D 2378)
Di tempat lain dia mengeluh
Tanpa kehadiranmu,
Sama (tarian berputar) itu haram...
Tak satu ghazal pun terucap tanpa kehadiranmu,
Namun, dalam kesukaan mendengar namamu (disebut)
Lima, enam ghazal tercipta. (D 1760)
Orang sering kali tergoda untuk bertepuk tangan dan menafsirkan kembali irama musiknya, dan irama musiknya inilah yang melahirkan syair ini atau itu.
Musim semi telah datang, musim semi telah datang,
Musim semi yang penuh dengan bunga-bunga
Telah datang.
Kawanku telah datang, kawanku telah datang,
Kawanku yang memikul beban telah datang ...
Muncunya puisi dari gerakan tarian ini juga menjelaskan kecenderungan Maulana pada pengulangan dan anafora-anafora yang panjang
Mari,mari kasih, mari kasih,
Masuk, masuklah ke dalam karyaku,
Ke dalam karyaku!
Kau, kaulah taman mawarku, taman mawarku;
Katakan, katakanlah rahasiaku, rahasiaku.
Dalam nada yang lebih kuat, tampak pada puisi
Kudengar omong kosong yang diucapkan oleh musuh,
Dalam hatiku. (D 1623)
Dalam beberapa hal tertentu, kita mengetahui bagaimana suatu kesan sensasional dapat melahirkan baris pertama dalam puisi, seperti ketika seseorang mengobrol dalam pertemuan sama’ telah membuat Rumi merasa terganggu

Dil ku? Dil ku?
Di mana hati? Dimana hati?
Kisah tentang seorang penjaja barang yang melewati rumah Maulana dengan membawa kulit serigala untuk dijual. Teriakannya dalam bahasa Turki: "tilku, tilku" (serigala-serigala!), segera memberikan ilham kepada Maulana untuk menulis sebuah puisi yang dimulai dengan kata-kata diatas
Pada suatu hari seorang kurdi kehilangan keledainya
atau kalau mungkin dia bertanya:
Apa yang kaumakan?Biarkan aku menciumnya!
Cukup, cukup! Kau cuma kuda seorang penjaja air,
Bila telah didapatkannya seorang pembeli,
Maka diambilnya lonceng kecil
Yang terkalung di leher (kuda) itu. (D 25)
Apakah ini Sinar Ilahiah?
Apakah ini datang dari dekat Tuhan? (D 2279)
Aku baca kisah cinta itu siang dan malam
Kini, aku akan menjadi sebuah kisah dalam cintaku
Kepadamu (D 1499)
Setiap utas rambutku telah berubah
Menjadi syair dan ghazal
Berkat cintamu. (D2329)
Sayap-sayap jibril dan malaikat menjadi biru;
Demi kau, orang-orang suci
Dan para rasul telah menangis....(D 2364)
Maulana menyanyikan lagu pemakaman yang sangat mengharukan, yang mengandung sajak berulang girista (telah mengangis)




Kata guru ; Untuk pemakamanku,
Ambilah genderang, rebana, dan gendang
Wahai teman-temanku,
Bergembira, bersuka ria, bertepuklah! (V 1112)
Pemakaman sang pandai emas pun bertabuh menjadi tarian berputar (sama), untuk memenuhi keinginannya sendiri, seperti dituturkan putranya Sultan Walad
Jiwa jamaah ini maju terus
Selangkah demi selangkah menuju jamaah,
Matahari di keningnya, dan ditangannya
Cawan demi cawan......(D 1583)
Nama Husamuddin disebutkan, dan dalam sebuah syair liris lainnya namanya muncul secara jelas dan kadang-kadang tersembunyi, seperti dalam lagu tarian suka cita berikut ini yang berakhir dengan permainan kata-kata:
Jika kau adalah sebuah nama-kini nama itu
Bercampur dengan yang dinamai
Tidak! Nama itu bagaikan sarung, dan yang dinamai
Adalah pedangnya (Husam).
Pada akhirnya Maulana menggunakan bahasa Arab:
Wahai Husamuddin, tuliskan penjelasan
Tentang Sultan Cinta (yaitu Syamsuddin). (D 738)
Karenanya, dia tampil sebagai bagian dari kepribadian Syams dan dengan begitu dapat diserahi tugas untuk menyimpan rahasia, seperti yang ditulis Maulana dalam Diwan:
Lebih baik jika sahabat tetap tertabiri!
Mari, dengarkan kisah ini:
Lebih baik misteri ini diceritakan
Dalam kisah orang lain, kisah lama! (M; 141)
Permintaan Husamuddin tentang Syams ditolak oleh Maulana yang akhirnya menenangkannya dengan baris-baris ini:

Wahai yang namanya adalah makanan lezat
Bagi jiwaku yang mabuk! (D 2229)
Namyn, di akhir karya itu, Maulana bercerita tentang Zulaikha, istri Potiphar dan kerinduannya kepada Yusuf yang tampan
Jangan menangis: "Aduhai kenapa pergi!"
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, "Selamat tinggal"
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911)
Dia juga menghibur teman-temannya dengan memperingatkan mereka bahwa kematian bukan perpisahan, tetapi pembebasan bagi burung jiwa:
Bila gandum dari debuku,
Dan bila dimasak jadi roti-kemabukan
Akan bertambah.
Adonan; mabuk!Dan tukang roti!
Ovennya pun akan menyanyikan mazmur
Yang ekstatis!
Bila Datang ke makamku untuk mengunjungiku
Jangan datang ke makamku tanpa genderang,
Karena pada perjalanan Tuhan,
Orang yang berduka tidak diberi tempat (D 683)
Dan dia berkata dengan penuh semangat kepada mereka:





Penduduk Kota, tua dan muda
Semuanya meratap, menangis, mengeluh keras,
Orang-orang desa, orang-orang Turki dan Yunani,
Mereka mencbik-cabik pakaian mereka
Karena perasaan sedih
Atas meninggalnya orang yang agung ini’
"Ia adalah Musa!"
Kata orang-orang yahudi.....(VN 121)
Maulana meninggal dunia pada senja hari, 17 Desember 1273, dan setiap orang di Konya-baik yang kristen, Yahudi, maupun muslim-menghadiri pemakamannya, seperti yang dikatakan oleh putranya
Di manakah aku, di manakah puisi?
Tetapi orang Turki membisikiku:
Hai, siapakah engkau? (D1949)
Bait diatas, yang ditulis dalam bahasa Turki, mengungkapkan sikap Maulana terhadap syairnya sendiri
Simpanlah kata-kata Persiamu,
Aku akan berucap dalam bahasa Arab:
"Jiwa kita dihibur oleh anggur."
Dikisahkan Syams sama sekali tidak menyukai puisi-puisi itu dan mengungkapkan ketidaksukaannya ini kepada sahabatnya dalam suatu ini kepada sahabatnya dalam mimpi yang aneh dimana Syams mengguncang-guncangkan Mutannabi yang tua itu bagaikan boneka usang. Namun, masih saja orang mendapati kiasan-kiasan dan kutipan-kutipan yang berasal dari Mutannabi dalam syair-syair Maulana dan juga dalam Fihi ma fihi, seperti dalam syair penutup dari sebuah ghazal
Sahabatku yang seorang tabib mengisi cangkir
Tinggalkan
Fa’iliun mufta’ilun dan fa’ilatun dan fa’i
Dia mengisi suatu baris dengan kata-kata bahasa Arab yang menarik perhatian untuk matra, fa’ilatun mufta’ilun "ini telah membunuhku", atau dia berkata dengan akhiran (ending) bahasa Arab
Separuh dari ghazal belum lagi terucap dari mulutku
Tapi sayang,aku telah kehilangan kepala
Dan kaki! (D 2378)
Di tempat lain dia mengeluh
Tanpa kehadiranmu,
Sama (tarian berputar) itu haram...
Tak satu ghazal pun terucap tanpa kehadiranmu,
Namun, dalam kesukaan mendengar namamu (disebut)
Lima, enam ghazal tercipta. (D 1760)
Orang sering kali tergoda untuk bertepuk tangan dan menafsirkan kembali irama musiknya, dan irama musiknya inilah yang melahirkan syair ini atau itu.
Musim semi telah datang, musim semi telah datang,
Musim semi yang penuh dengan bunga-bunga
Telah datang.
Kawanku telah datang, kawanku telah datang,
Kawanku yang memikul beban telah datang ...
Muncunya puisi dari gerakan tarian ini juga menjelaskan kecenderungan Maulana pada pengulangan dan anafora-anafora yang panjang
Mari,mari kasih, mari kasih,
Masuk, masuklah ke dalam karyaku,
Ke dalam karyaku!
Kau, kaulah taman mawarku, taman mawarku;
Katakan, katakanlah rahasiaku, rahasiaku.
Dalam nada yang lebih kuat, tampak pada puisi
Kudengar omong kosong yang diucapkan oleh musuh,
Dalam hatiku. (D 1623)
Dalam beberapa hal tertentu, kita mengetahui bagaimana suatu kesan sensasional dapat melahirkan baris pertama dalam puisi, seperti ketika seseorang mengobrol dalam pertemuan sama’ telah membuat Rumi merasa terganggu

Dil ku? Dil ku?
Di mana hati? Dimana hati?
Kisah tentang seorang penjaja barang yang melewati rumah Maulana dengan membawa kulit serigala untuk dijual. Teriakannya dalam bahasa Turki: "tilku, tilku" (serigala-serigala!), segera memberikan ilham kepada Maulana untuk menulis sebuah puisi yang dimulai dengan kata-kata diatas
Pada suatu hari seorang kurdi kehilangan keledainya
atau kalau mungkin dia bertanya:
Apa yang kaumakan?Biarkan aku menciumnya!
Cukup, cukup! Kau cuma kuda seorang penjaja air,
Bila telah didapatkannya seorang pembeli,
Maka diambilnya lonceng kecil
Yang terkalung di leher (kuda) itu. (D 25)
Apakah ini Sinar Ilahiah?
Apakah ini datang dari dekat Tuhan? (D 2279)
Aku baca kisah cinta itu siang dan malam
Kini, aku akan menjadi sebuah kisah dalam cintaku
Kepadamu (D 1499)
Setiap utas rambutku telah berubah
Menjadi syair dan ghazal
Berkat cintamu. (D2329)

Sabtu, 15 November 2008

अकुलाह अनगिन एन्ग्कौलाह Api

Akulah Angin Engkaulah Api

Diambil dari buku Akulah Angin Engkaulah Api (hidup dan karya Jalaluddin Rumi), Pengarang Annemarie Schimmel, Mizan, 2005
Mari ke rumahku, Kekasih –sebentar saja!
Gelorakan jiwa kita, Kekasih-sebentar saja!
Dari Konya pancarkan cahaya Cinta
Ke Samarkand dan Bukhara sebentar saja!
Itulah dendang Maulana Jalaluddin Rumi. Impiannya bahwa cahaya cinta akan bersinar dari Konya ke Samarkand dan Bukhara "sebentar saja" lebih dari sekadar tercapai, dimana syair-syair Rumi diperkenalkan lewat terjemahan orientalis Jerman dan Inggris sejak awal abad ke-19
Bila Kematian itu manusia
Yang dapat kupeluk erat-erat!
Aku kan mengambil darinya jiwa, yang bersih dan tak berwarna;
Dan ia akan mendapatkan dariku jubah berwarna hanya itu! (D 1326)
Jika kita berdiri di tengah-tengah nisan-nisan kuno ini, rasanya kita seperti mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Rumi untuk menghibur temannya selama akhir masa sakitnya, pada musim gugur 1273
Aku telah begitu banyak berdoa
Hingga aku telah berubah
Menjadi doa itu sendiri
Setiap orang yang melihat diriku
memohon doa dariku ( D 903 )
Betapa seringnya Maulana Rumi berdiri ditempat ini ketika shalat Jum’at! Shalat adalah pusat kehidupannya, bukan shalat yang ditunaikan hanya dengan bibir dan kaki tangan, melainkan shalat yang memiliki arti penyatuan diri dengan Ilahi Tercinta.Bait ini merupakan potret diri yang paling sejati dari seorang sufi besar.
Hati itu seperti butir biji, dan kita seperti kincir.
Katakan, apakah kincir itu tahu
Mengapa ia berputar?
Tubuh ini ibarat batu, air adalah pikiran
Batu itu berkata: "Oh, air itu mengerti!"
Air berkata: "Tidak, tolong tanyakan pada kincir
Ia telah mengirimkan air ke lembah-tanyakanlah apa sebabnya!’
Kincir berkata: "Hai pemakan roti!-Haruskah ini berhenti
Maka katakanlah, apa yang dilakukan oleh pembuat roti?..." (D 181)
Di Meram kita dapat melihat sebuah sungai kecil, di tepi sungai itulah Maulana sering bertamasya bersama-sama murid-muridnya, suara kincir air dan gemuruhnya air sungai sering mengilhaminya untuk berputar-putar atau membawakan syair-syair yang menunjukkan bahwa suara kincir dan gemuruhnya sungai menjadi lambang kehidupan;
Lihatlah, aku telah banyak mencoba,
Dan mencari dimana-mana
Tetapi tak pernah kutemukan seorang sahabat
Seperti dirimu.
Aku telah mencoba setiap pancuran,
Setiap butir anggur,
Tetapi tak pernah
Merasakan kenikmatam minuman anggur
Semanis dirimu....
Ada orang-orang yang masih menjalankan tradisi, yang tidak hanya membaca Matsnawi, memainkan seruling dan senang menulis kaligrafi untuk mengenang Maulana, tetapi mereka yang sudah "masak"-yang dengan kata lain, mempunyai jiwa yang matang sehingga mereka benar-benar menjadi murid-murid sejati Maulana,sebagai perwujudan Cinta Ilahi yang dipancarkan dalam hidupnya dan dalam karya-karyanya. Dan pengunjung akan menyebut Rumi seperti yang pernah dilakukan penyair ini kepada kekasihnya
Pergilah ke pangkuan Tuhan,
Dan Tuhan akan memelukmu dan menciummu,
Dan menunjukkan
Bahwa Ia tidak akan membiarkanmu lari dari-Nya.
Ia akan menyimpan hatimu dalam hati-Nya,
Siang dan malam (Ma’arif, h. 28)
Sesungguhnya dia telah mengalami tahapan mistik tertinggi, sesuatu yang sensual, suatu cinta yang sempurna kepada Tuhan, sampai dia berada dalam pelukan-Nya, dan dia menyadari aktivitas mencintai Tuhan ini, "kebersamaan" dengan segala sesuatu (maiyyah) dalam kehidupan segala yang tercipta
Seseorang berkata: "Wahai, Tuanku Sana’i
Telah meninggal dunia!"
Aduhai, kematian orang semacam itu
Bukan hal yang sepele!
Ia bukan sekedar benang yang terbang
Bersama angin,
Ia bukan air yang membeku karena dingin,
Ia bukan sisir yang patah di rambut,
Ia bukan butiran yang hancur di dalam tanah.
Ia adalah emas yang ada dalam tebu... (D 1007)
Burhanuddin membimbing murid-muridnya melakukan latihan-latihan tasawuf yang telah digeluti selama empat abad terakhir oleh para sufi dan mengirimnya satu dua kali ke damaskus, dimana banyak sufi, termasuk Ibnu Arabi menetap ditempat itu.
Citra impianmu ada di dada kami
Sejak fajar kami sudah dapat merasakan sang surya (D 2669)
Syams adalah matahari yang luar biasa, matahari yang mengubah seluruh hidupnya, membakarnya, membuatnya menyala, dan membawanya kedalam cinta yang sempurna.
Wajahmu bak sang mentari, Wahai Syamsuddin
Yang dengannya hati berkelana bagai cawan!
Jalaluddin dan Maulana tak terpisahkan lagi; mereka manghabiskan hari-hari bersama, dan menurut riwayat, selama berbulan-bulan dapat bertahan hidup tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia ketika bersama-sama menuju Cinta Tuhan
Namun, tiba-tiba muncul kecemburuan Tuhan
Dan mulut-mulut menjadi kasak-kusuk
Penduduk Konya tidak suka melihat pengaruh Syams pada maulana, pada suatu hari, diapun menghilang dengan misterius; semisterius kedatangannya.
Aku adalah zahid yang pandai, orang yang berjuang
Kawanku yang sehat,
Katakan mengapakah kau terbang
Seperti burung? (D 2245)
Jalaluddin merasa patah hati. Karena terpisah dari mataharinya, apa yang dilakukannya? Namun, pada saat inilah dia mulai berubah; dia menjadi seorang penyair, mulai mendengarkan musik, menari berputar-putar, selama berjam-jam. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi
Aku menulis seratus surat,
Aku menulis seratus jalan-
Tampaknya tak kau baca selembar surat pun,
Tampaknyatak kau ketahui satu jalan pun! (D 2572)
Dia mencoba menulis surat tentang Syams, tetapi darwis itu menghilang tak tentu rimbanya dan jawaban pun tak kunjung tiba.
Siapa yang mengatakan bahwa Yang Kekal Abadi itu
Telah mati,
Siapa yang mengatakan bahwa Mentari Harapan
Yang disana telah mati
Ia adalah musuh Matahari; mendaki ke atas atap,
Ia menutupi matanya dan menangis;
"Sang Mentari telah mati!" (D Rub. No. 534)
Pada suatu malam, 5 Desember 1248, ketika Maulana dan temannya itu sedang berbicara, Syams dipanggil ke pintu belakang. Dia melangkah keluar dan tak pernah kembali. Maulana pasti dapat merasakan apa yang telah terjadi, tetapi tidak mau percaya bahwa temannya itu hilang.
Malam berpakaian hitam,
Untuk menunjukkan duka citanya
Bagaikan istri yang bergaun hitam
Setelah suaminya menjadi debu! (D 2130)
Syams tak pernah kembali; dan apakah hidup ini tanpa sang Matahari? Semesta alam tampaknya turut berduka cita bersama Maulana;
Bila orang itu mengatakan,
"Aku telah melihat Syams!"
Maka tanyakanlah,
"Kemanakah jalan menuju surga?"
Adakah sesuatu yang tersisa selain kehitaman etelah Matahari terbenam?Ketika seorang menyatakan bahwa ia telah melihat Syams, Maulana menjawab
Berkata: "Karena aku adalah dia,
Apa gunanya mencari?
Aku sama dengan dia, zatnyalah uang berbicara!
Sebernarnya yang kucari adalah diriku sendiri,
Itu pasti.
Yang mencari dalam tong, bak air anggur."
Dengan harapan yang tak mungkin terjadi, Maulana pergi ke Suriah. Akan tetapi, kemudian "dia menemukannya dalam dirinya, bersinar bak rembulan".
Aku terus bernyanyi bersama orang lain
Syamsuddin dan Syamsuddin,
Bul-bul di taman pun ikut bernyanyi,
Ayam jantan di perbukitan. (D 1081)
Sebelumnya, dia telah menyadari bahwa dia tak dapat lagi menyembunyikan nama Syams dan merasa bahwa semesta alam memuji sahabatnya bersama-sama dengan dirinya
Engkaulah Mentari, kamilah embun
Kau membimbing kami
Ke tempat yang paling tinggi! (D baris ke-35816)
Dia merasa Syams sedang menyalurkan gelombang rahmat tersebut
Karena aku hamba Sang Mentari,
Aku berbicara hanya tentang Mentari! (D 1621)
Dan segenap keberadaan sang penyair merupakan saksi bagi Syams walaupun lidahnya diam;
Tak Patutkah bila aku memanggilmu banda
["abdi", manusia]
Tapi aku takut memanggilmu Tuhan, khuda! (D 2678)
Karena perasaan inilah, dia menyebut-nyebut Syams dengan kata-kata yang terdengar menghina Tuhan sebab yang dilihatnya dalam diri temannya itu hampir-hampir manusia yang bersifat Ilahiah
Syamsulhaqq [Mentari kebenaran Ilahi]
Bila kulihat di cermin yang jernih
Apapun kecuali Tuhan, aku lebih buruk
Daripada seorang kafir! (D 1027)
Syair-syair semacam ini tentu saja membuat rakyat Konya marah. Akan tetapi, bagi Maulana tak ada keraguan:
Apakai ini kekafiran atau islam, dengarlah:
Kamu itu sinar Tuhan atau Tuhan, khuda (D 2711)
Dan meski dia menyadari posisinya yang sulit, dia berseru dlm baris diatas
Engkaulah sinar yang berkata kepada Musa:
Akulah Tuhan, Akulah Tuhan, Akulah Tuhan! (D 1526)
Dan dia mempertegas pernyataannya dalam baris-baris diatas
Ketika kau membaca "Demi Cahaya Pagi",
Pandanglah Mentari!
Syam adalah orang yang mengetahui misteri-misteri yang ada pada Rasulullah. Itulah sebabnya tarian mistis, yang dilakukan oleh para darwis hingga masa sekarang ini, selalu dimulai dengan suatu himne mengenang Rasulullah yang berpuncak dalam puji-pujian kepada Syamsuddin
Ketika aku tidur di jalan temanku,
Pleiades (sekelompok bintang-penerj,)
Adalah bantal dan selimut bagiku (D 364)
Seluruh alam tampaknya mencintai kedua orang ini; dan nama teman yang dicintai itu mempunyai kekuatan yang sedemikian rupa sehingga siapapun yang mengucapkannya, tak akan pernah melihat kehancuran tulang belulangnya.
Wahai, buatlah aku menjadi haus,
Jangan beri aku air!
Jadikan aku kekasihmu!
Kuasailah dalam tidurku! (D 1751)
Ini adalah pertemuan dua orang yang tidak memiliki unsur romantis, walaupun ada syair-syair yang manis dan liris ,mengenai Syams-tetapi hal itu tidak bersifat tidak mengenal waktu dan bersifat hikayat.
Dan hasilnya hanya tiga kata;
Aku terbakar, aku terbakar, aku terbakar.
Maulana tidak pernah benar-benar memahami bagaimana Cinta telah memberinya lagu dan musik, memberinya alim yang zuhud, dan orang yang berkeluarga baik-baik, bagaimana itu telah mengubahnya.
Ia yang muncul dengan gaun merah setahun yang lalu
Kini, telah tiba dengan jubah berwarna kecokelatan
Anggur itu tetap satu,
Hanya wahananya yang berubah
Betapa manisnya anggur itu memabukkan (D 650)
Orang saleh yang buta huruf ini, yang demikian telah menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan spiritual Rumi, kini secara tiba-tiba tampak bagi sang guru cermin sejati yang amat diinginkannya untuk menemukan jalan kembali kepada dirinya sendiri.

Kamis, 13 November 2008


TARIAN MAKHLUK, TARIAN BERPUTAR
Di negri manakah terdapat dua Mentari?Meski orang-orang berada di Indonesia, Cina, India, Persia atau Arabia,bukankah mereka sama-sama melihat Mentari?Bila demikian, benarkah terdapat banyak Mentari?Lalu bagaimana mungkin saat malam haridapat meluncur dari mulutmu, "Huh, Mentari telah meninggalkanku!"Aduhai, lalu siapakah yang terbatas itu?Ketika para planet di sana dengan tarian berputarnya,atau seperti manusia bangkai di Baytullah,semua menari berputar-putar hingga langkah kembali semula."O, kami tak lain hanyalah kaum pemyembah Mentari," semua melantunkan, "Kami hanyalah persandingan yang nol."Menyadari hal ini, para planet tetap terus berputar hingga menjadikannya mabuk.Akhirnya, Mentari membakar mereka untuk menyisakan yang sedikit.Api itu sungguh panas, hingga kesatuan dalam selainnya menjadi mati.Selainnya itu adalah nol-nol yang tak berkesudahan.Meski ia terlihat dua, tetap saja semuanya adalah nol.Engkau tak dapat melakukannya dengan perkalian.Ini bukan wilayah itu!Engkau pun tak dapat melakukannya dengan penambahan.Ketika dilakukan dengan cara itu, engkau berhasrat menjadikannya lebih.Kesadaran pengurangan adalah baik untuk itu.Suatu keadaan yang mana engkau menjadi tiadadan bukan apa-apa atau pun sesiapa.Tegalrejo Yogyakarta, 26 April 2003
Di Eropa dan Amerika, Raqs Sama` dikenal juga dengan istilah Whirling Dervishes, yang berarti "para Darwis (Dervish, red Iran) Berputar (thawaf)," yang di kalangan Sufi sendiri lebih dikenal hanya dengan istilah Sama`. Pada hakikatnya, Sama` yang sebagai tarian spiritual merupakan simbolisasi bentuk dzikir yang memadukan antara dzikir secara zahiriah dan batiniah, yang diformulasikan oleh Mawlana Syekh Jalaluddin Rumi qs yang kelahiran Balkh, Afghanistan Utara, sebuah kawasan yang sekarang telah menjadi bagian dari negara Iran. Sama` merupakan tarian spiritual yang tidak saja hanya sebatas artistik, ia juga amat sakral, yang biasa dibawakan oleh para Darwis Mawlawiyah. Umumnya, Sama` juga diiringi dengan harmonisasi tiupan seruling dan irama gendang, sebagai simbolisasi Nama dan Sifat Allah, al-Jamal.Dalam melakukan dzikir, tak ada batasan yang melarang formulasinya, kecuali zikir yang telah ditentukan, Shalat misalnya. Ketika Allah mengatakan ingatlah Daku dalam keadaan apapun itu, baik ketika berbaring, duduk maupun berdiri, maka ketika Anda berdzikir saat berbaring sembari tengkurap, no problem. Ketika Anda dzikir saat duduk sembari jongkok, no problem. Ketika Anda berdzikir pada saat berdiri sembari berjalan atau berolah-raga pun tak masalah. Intinya, dalam keadaan apapun itu, kita berupaya untuk senantiasa mengingat Allah, yang terpenting tujuannya adalah beribadah kepada Allah, mengakhiratkan dunia. Bahkan, ketika kalian, para pasutri, yang berhungan pun dan jika itu dilakukan dengan zikrullah, hal itu akan dinilai ibadah oleh Allah Swt. Sekarang, bayangkanlah, anggap saja Anda tengah berolah-raga. Hanya saja olah-raga itu Anda lakukan demi ibadah, mengingat Allah.Sebagaimana Shalat, yang adalah juga formulasi zikrullah yang memadukan antara dzikir zahiriah dan batiniah, ia merupakan bias Ilahi dari batiniah kembali menuju lahiriah, dan segenap eksistensi manusia terlibat dalam suatu keadaan yang mencerahkan. Tak ada satupun kata dalam bahasa yang ada --termasuk bahasa Arab itu sendiri-- yang mampu menyampaikan luas dan dalamnya makna Shalat. Seluruh kata dan penafsiran dinyatakan, namun itu semua belumlah cukup untuk menyampaikan perpaduan indah yang terjadi antara kepasrahan, kerendahan hati yang sarat dedikasi serta rangkaian mistis gerak tubuh. Bagi tawanan dalam penjara, mungkin akan lebih menginginkan sebuah peralatan kunci, godam ataupun yang sejenis. Namun, seseorang telah memberikan sajadah kepadanya dan ia mulai mengerjakan Salat Fardhu. Pada tiap-tiap bagian Shalat ia bertafakur, merenungkan sajadah tempat ia bersujud hingga akhirnya ia melihatnya sebagai suatu cara kerja dan diagram kunci yang memenjarakannya, dan kini, ia telah berada di luar.